Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Sisihkan pendapatan agar petani mandiri

Penyerahan buku tabungan kepada petani karet Kampung Upyeteko – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

KAMPUNG Upyeteko dan Kampung Kawantet di Distrik Waropo ditetapkan sebagai lokasi proyek percontohan pengembangan karet alam di Kabupaten Boven Digoel. Kondisi karet di kedua kampung dinilai masih relatif baik sehingga mudah dikembangkan.

“Pohon terawat baik. Kondisinya masih utuh dan belum disayat untuk diambil getahnya,” kata Direktur PT Kaiwen Yedija Sejahtera, Nathalis B Kaket, kepada Jubi, Senin (18/2/2019).

PT Kaiwen menjadi perusahaan pelaksana proyek percontohan. Setiap petani peserta bakal memiliki rekening bank untuk menampung dana kontribusi program.

“Sebanyak 80% (dari setiap penjualan) diserahkan langsung kepada petani untuk kebutuhan sehari-hari, sedangkan 20% masuk ke rekening bank,” jelas Kaket.

Perusahaan berinisiatif menyisihkan hasil penjualan karet setiap petani dan menabungkannya di bank. Rencananya tabungan tersebut disiapkan untuk pembangunan perumahan bagi petani karet peserta program.

Loading...
;

Seluruh buku tabungan disimpan pihak perusahaan. Alasannya agar lebih mudah mengontrol keuangan. Kaket menjamin mereka, begitu pula pihak bank akan selalu transparan dalam mengelola keuangan petani tersebut.

“Tidak ada yang disembunyikan karena itu ialah uang petani.”

Kaket mengklaim upaya tersebut guna membiasakan petani dari Orang Asli Papua, itu berinvestasi untuk masa depan.

“Saya memprioritaskan investasi perumahan dan modal bagi masa depan anak-anak mereka saat ini, yang masih mengenyam pendidikan.”

Pembuatan rekening telah dilakukan untuk petani karet di Kampung Upyeko, sedangkan untuk Kampung Kawantet dijadwalkan pada pekan depan. Akan tetapi, baru sebanyak 47 dari 80 keluarga petani di Upyeko yang memiliki rekening. Sebagiannya lagi masih diuruskan administrasi kependudukannya sebagai syarat pembukaan rekening bank.

Memupus ketergantungan

PT Kaiwen Yedija Sejahtera menargetkan merangkul sekitar enam ribu petani karet di 14 distrik di Boven Digoel sebagai peserta program mereka. Wilayah tersebut selama ini dikenal memiliki potensi pengembangan karet alam yang cukup menjanjikan. Tidak kurang ada 3 ribu hektare hamparan kebun karet produktif di sana.

Pihak perusahaan mematok harga beli sebesar Rp 13 ribu untuk setiap kilogram bahan olahan karet (bokar). Kaket menyebut nilai pembelian mereka sesuai harga pasaran saat ini.

“Pada tahun lalu kami menjual 15 ton karet (bokar) ke Jakarta untuk di ekspor ke Singapura, dan sejumlah negara.”

PT Kaiwen tidak sekadar menampung bokar. Mereka juga melakukan pendampingan. Para petani diajarkan cara mengukur kematangan pohon, teknik menyadap yang benar, hingga pengelolaan dan pengemasan produk.

Kaket mengaku program mereka bertujuan memupus ketergantungan terhadap bantuan pemerintah. Warga harus bisa mandiri karena potensi kebun karet mereka sangat menjanjikan apabila dikelola dengan baik dan benar.

“Bicara tentang karet berarti bicara proteksi wilayah. Ini menyangkut harga diri. Karena itu, pemerintah harus mengembalikan semua kekayaan alam karena kami bisa kelola sendiri,” tegas Kaket.

Bupati Boven Digoel, Benediktus Tambonop, juga turut mendorong pemanfaatan lahan melalui budi daya karet. Dia meyakini karet mampu menjadi penopang utama kehidupan warga.

“Sebagian besar karet sudah bisa disayat (berproduksi). Namun, masih banyak lahan kosong yang bisa dimanfaatkan untuk ditanami karet,” kata Tambonop, beberapa waktu lalu. (*)

Editor: Aries Munandar

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top