HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Siswa kaget ketika menteri masuk kelas di Nabire

Menteri PPN/Kepala Bappenas Prof. Bambang Brodjonegoro duduk dengan pengurus IASA di belakang siswa SMA YPPK Adhi Luhur Nabire yang sedang belajar – Jubi/Titus Ruban

Papua No. 1 News Portal | Jubi

“Kami kaget, biasanya kalau ada acara menteri yang datang hanya anak buahnya, ternyata sekarang yang datang masuk kelas benar seorang menteri,” ujar seorang siswa.

Indonesian American Society of Academics (IASA) bekerja sama dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) membuat program sekolah terintegrasi berpola asrama di Provinsi Papua.

Dua sekolah ditunjuk sebagai pelaksana program, SMAN 3 Jayapura dan SMA YPPK Adhi Luhur Nabire. Program tersebut diresmikan di kedua sekolah pada Rabu, 9 Agustus 2019.

Saat peresmian hadir Menteri PPN/Kepala Bappenas, Prof. Bambang Brodjonegoro, bersama pengurus IASA. Usai acara seremonial diSMA YPPK Adhi Luhur Nabire, Menteri dan rombongan meninjau gedung dan fasilitas, lalu masuk ke kelas yang sedang belajar. Menteri dan rombongan duduk di bangku belakang siswa menyimak cara belajar.

Loading...
;

“Kami kaget, biasanya pejabat pusat yang datang selalu diwakili, kalau menteri yang datang anak buahnya, ternyata yang datang ke kelas kami seorang menteri,” ujar Denny Irianto Hilapok, siswa di kelas yang dimasuki Menteri, kepada Jubi.

Menurut Hilapok, Menteri Bambang melontarkan beberapa pertanyaan kepada siswa tentang apa saja kesulitan saat guru menjelaskan jika dua mata pelajaran diintegrasikan dalam satu jam pembelajaran.

“Saya jawab bahwa awalnya memang sulit, tetapi sebenarnya tidak, sebab kita tidak dituntut untuk menghapal pelajaran sebab susah kalau menghapal, tetapi dituntut untuk memahami dan saya rasa ini lebih mudah kalau kita semakin berusaha,” katanya.

Yohanis Tekege, siswa lainnya senang karena Pak Menteri bisa masuk ke kelas mereka. Menurutnya proses belajar di kelas terintegrasi membuat siswa cepat memahami pelajaran.

“Saya senang Menteri datang ke kelas kami, saya juga senang model begini membuat kami cepat menangkap pelajaran, misalnya sejarah Indonesia digabung dengan Bahasa Inggris, kami langsung menangkap dan bisa mengerjakan tugas dengan baik,” katanya.

Kepala SMA YPPK Adhi Luhur Nabire, Romo Chirtoporus Arya Prabantara, mengatakan Kurikulum Terintergasi (Integrated Curriculum) dijabarkan dalam empat bidang, yaitu kelas terintergasi, ektra kurikuler terintegrasi, laboratorium terintegrasi, dan kehidupan asrama terintegrasi.

Kelas terintegrasi menyambung dua mata pelajaran atau lebih, baik serumpun maupun berbeda rumpun. Sehingga waktu temu muka siswa dan guru bisa dipersingkat tanpa mengurangi kualitas. Misalnya mata pelajaran Kimia dan Fisika atau Bahasa Indonesia dan Sosiologi.

“Jadi pada kelas konvensional satu jam pelajaran waktunya 45 menit, sedangkan di kelas integrasi satu jam pelajaran 45 menit, tetapi diisi oleh dua guru dengan dua mata pelajaran yang berbeda dengan masing-masing guru memberikan materi 30 persen dan sisanya untuk siswa mengerjakan tugas,” ujarnya.

Febiola, seorang guru, menjelaskan ada kendala dengan jaringan ketika menggunakan model. Karena jaringan perlu saat siswa mengumpulkan tugas dibandingkan ketika tidak menggunakan jaringan maka flash disk digunakan untuk mengumpulkan tugas.

Jika menggukan jaringan, katanya, siswa langsung submit ke kelas virtual sehingga langsung ditampilkan dan otomatis nilainya keluar.

“Dan siswa juga bisa melihat referensi-referensi yang digunakan dalam pertemuan tersebut,” katanya.

Febiola belum bisa memastikan seperti apa daya tangkap siswa karena masih perlu waktu membandingkan nilai sebelum dan setelah program. Selain itu perlu melihat dari model yang tepat.

Dalam program tersebut ada beberapa model integrasi mata pelajaran.

“Misalnya ada model dua guru masuk di satu kelas, ada model berbagi penilaian, satu guru mengoreksi dari sisi kebahasaan dan guru lainnya mengisi kontennya seperti apa dan itu dua guru tidak masuk sekaligus, namun intinya anak mengerjakan satu tugas untuk dua mata pelajaran,” katanya.

Cara seperti itu menurut Febiola menghemat waktu dan beban belajar siswa, namun tugas yang dikerjakan lebih bermutu sehaingga tidak ada mata pelajaran yang saling terlepas.

Penerapan program tersebut difokuskan pada Kelas X, sedangkan kelas XI hanya dalam bentuk model.

Dalam prakteknya, katanya, siswa menyukai karena beban belajar dikurangi. Seperti mengerjakan tugas pada saat jam pelajaran, sehingga ketika pulang untuk istirahat  atau mengerjakan hal lain dan tidak hanya fokus pada tugas rutinitas sekolah.

“Jadi siswa ada waktu untuk mendalami ilmunya dan sekaligus mengerjakan hal lain,” katanya.

Febiola mengatakan program tersebut terintegrasi antara pelajaran, ekstrakurikuler, dan asrama karena itu siswa akan maksimal jika tinggal di asrama. Sebab di asrama ada prosedur dan pendampingan.

Menteri Bambang mengatakan program sekolah berintegrasi ada di Nabire bukan untuk siswa di Kabupaten Nabire saja, melainkan juga untuk beberapa kabupaten di wilayah adat Meepago, bahkan juga untuk Papua dan Papua Barat.

Selain itu, katanya, pemerintah ingin memastikan bahwa yang di Nabire berbeda dengan yang di Jayapura, sebab di Jayapura adalah SMA negeri, sedangkan di Nabire SMA swasta. Kementerian ingin melihat program yang sama juga bisa berjalan lancar baik di sekolah negeri maupun swasta.

“Intinya ini proyek percontohan, jika berhasil maka ke depan kita harapkan akan lebih banyak lagi SMA berasrama seperti ini yang berintegrasi kurikulumnya dan bisa menyebar terutama di kabupaten-kabupaten lain di Provinsi Papua dan Papua Barat,” katanya. (*)

Editor: Syofiardi

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top