Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Skema tenaga kerja Vanuatu ke Fiji kurang transparan

Program ini membuat serikat pekerja tidak nyaman karena minimnya informasi yang diketahui publik. – ABC News/ Giulio Saggin, file photo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Port Vila, Jubi – Pemimpin-pemimpin serikat pekerja Fiji dan Vanuatu telah menyuarakan kekhawatirannya atas program baru yang mendatangkan pekerja dari Vanuatu, untuk memotong tebu di perkebunan-perkebunan di Fiji.

Kedua organisasi itu mengungkapkan bahwa, karena kurangnya transparansi, para pekerja lebih rentan terhadap eksploitasi, dan meminta kedua pemerintah Pasifik untuk menyediakan lebih banyak informasi kepada publik mengenai skema itu.

Mahendra Chaudhry adalah Sekretaris Jenderal Serikat Petani Fiji, dan ia prihatin dengan sedikitnya informasi mengenai persetujuan itu.

“Belum ada rincian sampai saat ini mengenai kondisi ketenagakerjaan yang sebenarnya,” tutur Chaudhry. “Kami diberitahu bahwa pekerja akan membayar ongkos mereka sendiri untuk pulang pergi ke Fiji, dan bahwa mereka akan membayar sendiri biaya makan dan akomodasi.”

Saat ini ada 19 warga negara Vanuatu berada di Ba, di Viti Levu, pulau terbesar di Fiji, untuk membantu petani-petani setempat di sana memotong tebu.

Loading...
;

Tidak banyak informasi yang diketahui tentang inisiatif yang dipimpin oleh pemerintah Fiji itu. Direktur divisi operasional pemerintah bagian Industri Gula, Sanjay Kumar, menolak berkomentar, mengarahkan Pacific Beat untuk menghubungi Sekretaris Tetap Kementerian Industri Gula Pemerintah. Kantor ini tidak menanggapi permintaan untuk komentar.

Valua Gremson dari Serikat Pekerja Vanuatu berkata kurangnya informasi detail tentang skema itu, membuat para pekerja lebih rentan terhadap eksploitasi. “Kekhawatiran kita adalah kita benar-benar ingin memahami apa syarat dan ketentuan dari pekerja yang pergi ke Fiji,” kata Gremson.

Program ini membuat Gremson tidak nyaman karena itu mengingatkannya pada saat dimana laki-laki dari Vanuatu dipaksa untuk bekerja di perkebunan tebu di seluruh Pasifik, terutama di Australia, tetapi juga di Fiji, pada era blackbirding lebih dari seratus tahun yang lalu.

“Kita tidak ingin mengulangi sejarah blackbirding ini,” tegas Gremson. “Kita harus memastikan pekerja kita mendapatkan pekerjaan yang aman.”

Menteri Dalam Negeri Vanuatu, Andrew Napuat, menerangkan dia sendiri tidak memiliki informasi tentang proyek tersebut, tetapi akan mempelajari hal itu.

Fiji sedang mempertimbangkan untuk memperluas program itu, beberapa laporan mengatakan 120 pekerja Vanuatu akan direkrut tahun depan. (Radio Australia/ Pacific Beat)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top