HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

SKK Migas klaim, anjungan Tangguh Train III Arandai sesuai AMDAL

A.Kinder (kiri), tokoh adat suku Sebyar di Kabupaten Teluk Bintuni bersama Paul Finsen Mayor (kanan), ketua DAP wilayah III Domberai saat menggelar jumpa pers belum lama ini. (Jubi/Hans Arnold Kapisa).

Manokwari, Jubi –Alasan pencemaran air dan terbatasnya ruang gerak transportasi laut di sekitar muara Arandai yang dikhawatirkan jadi ancaman masyarakat adat suku Sebyar dan tujuh marga pemilik sumur minyak, seolah kandas tanpa arah.

Itu setelah pihak perusahaan menyikapinya dengan data sainstis melalui kajian lingkungan dan sosial yang tertuang dalam dokumen AMDAL proyek Tangguh Train III.

Galih W Agusetiawan, Humas SKK Migas dalam siaran persnya kepada Jubi di Manokwari, menyatakan bahwa proses pembangunan proyek Tangguh Train III dilakukan dengan merujuk pada dokumen Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) yang dalam proses penyusunannya dilakukan melalui berbagai kajian lingkungan dan sosial.

Dia mengklaim, proses awal sebelum pelaksanaan proyek konstruksi dan kegiatan pembangunan fasilitas perusahaan, sudah diawali dengan konsultasi publik tentang AMDAL. Dalam konsultasi publik itupun melibatkan masyarakat umum dan masyarakat adat di Kampung-kampung yang terkena dampak langsung di Kabupaten Teluk Bintuni dan Fakfak.

“Masyarakat, termasuk masyarakat adat di kampung-kampung yang terkena dampak di wilayah Kabupaten Teluk Bintuni dan Fakfak juga sebelumnya sudah dilibatkan melalui proses konsultasi publik dan sidang komisi AMDAL,” ujarnya, Rabu (20/3/2019).

Loading...
;

Dikatakan Galih, masyarakat di muara Arandai tidak perlu khawatir dengan ancaman kontaminasi air di sekitar wilayah pembangunan anjungan lepas pantai Proyek Train III, karena kondisi air tidak akan terpengaruh dengan kegiatan pembangunan anjungan lepas pantai karena tidak akan terpengaruh (tercemar).

“Karena dalam melakukan kegiatan operasi, kami melakukan pengelolaan dan pemantauan terhadap kualitas air yang dilakukan secara berkala di wilayah perairan Bintuni sesuai dengan indikator yang telah ditentukan. Hasil dan pelaporan pemantauan kualitas air kami disampaikan dua kali dalam setahun kepada Kementerian Lingkungan Hidup,” ujarnya.

Pembangunan anjungan lepas pantai di muara Arandai, telah dipetakan dalam bentuk zonasi. Sehingga ada zona aman yang disediakan sehingga diangggap tidak mempengaruhi jalur transportasi laut masyarakat Arandai

“Berkaitan dengan jalur transportasi masyarakat Arandai, perlu ditambahkan juga bahwa zona aman anjungan lepas pantai proyek Train III tidak mempengaruhi jalur transportasi masyarakat Arandai,” ujarnya.

Sebelumnya, A.Kinder tokoh adat suku Sebyar mewakili tuhuh marga di wilayah muara kali Arandai bersama Dewan Adat Papua (DAP) Domberai mengemukakan dampak ancaman pembangunan anjungan lepas pantai Tangguh Train III.

Dia bilang, ancaman utama yang disampaikan terkait pencemaran air dan ruang gerak transportasi. Termasuk akses bagi nelayan lokal saat melaut di muara Arandai yang menjadi tempat pembangunan anjungan lepas pantai. (*).

Editor: Syam Terrajana

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top