Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

SKP Dekanat Paniai: penembakan di Deiyai dipicu mobil aparat yang tabrak pengunjukrasa

Insiden penembakan pasca unjukrasa anti rasisme di Kantor Bupati Deiyai pada Rabu (28/8/2019). – IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Sekretariat Keadilan untuk Perdamaian Dekanat Paniai pada Selasa (3/9/2019) mengumumkan hasil investigasi yang menelusuri kronologi penembakanan pengunjukrasa anti rasisme di Kantor Bupati Deiyai di Waghete, ibukota Kabupaten Deiyai, Papua. Investigasi itu menyimpulkan penembakan itu dipicu sebuah mobil aparat keamanan yang menyerepet tewas seorang anak bernama Yustinus Takimai (17).

Hal itu disampaikan Pastor Santon Tekege Pr pada Selasa. “Jika mobil aparat keamanan Indonesia itu tidak menabrak beberapa orang [warga] dan tidak menewaskan seorang pemuda atas nama Yustinus Takimai, tidak mungkin akan ada penembakan di Deiyai. Mobil aparat keamanan Indonesia itu justru menjadi sumber dan pelaku utama [dari amuk massa yang akhirnya] menewaskan beberapa masyarakat sipil di Kabupaten Deiyai Papua,” kata Pastor Santon.

Investigasi Sekretariat Keadilan untuk Perdamaian (SKP) Dekanat Paniai menemukan fakta bahwa tepat sebelum penembakan terjadi pada Rabu (28/8/2019) ada mobil aparat keamanan melaju dari arah Enarotali dengan kecepatan tinggi. Mobil itu menyerempet beberapa pengunjukrasa yang sedang berarakan memasuki Kantor Bupati Deiyai.

Mobil itu secara tiba-tiba berbelok Kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Deiyai. Seorang anak, Yustinus Takimai (17) tak sempat menghindar, dan akhirnya tergencet ke tembok pagar Kantor Badan Kepegawaian Daerah Deiyai hingga meninggal dunia. Massa yang marah segera membuka pintu mobil, dan menemukan tentara yang mengendarai mobil itu.

Loading...
;

“Masyarakat menarik keluar sopil TNI itu, langsung memukul dan memanah [tentara itu.]. Tiga tentara dan tiga polisi yang ada di dalam mobil [juga] disuruh keluar. [Massa] memukul mereka dengan parang, dan memanah mereka. [Massa juga sempat] mengambil sepuluh pucuk senjata api,” kata Pastor Santon.

Pastor Santon menyatakan pasca amuk massa di luar halaman Kantor Bupati Deiyai itu, aparat keamanan yang bersiaga di halaman Kantor Bupati Deiyai langsung melepaskan tembakan. Tembakan itu itu diarahkan secara langsung kepada para pengunjukrasa, membuat mereka berhamburan melarikan diri. Aparat keamanan Indonesia [juga menembakkan] gas air mata kepada para pengunjukrasa.

“Akibat tembakan dan gas air mata itu, tujuh warga sipil tewas. Sejumlah 39 warga lainnya mengalami luka-luka karena tembakan, baik luka berat maupun ringan,” kata Pastor Santon.

Selain Yustinus Takimai (17) yang tewas tertabrak mobil aparat keamanan, investigasi Sekretariat Keadilan untuk Perdamaian Dekanat Paniai telah memverifikasi tujuh identitas warga yang tewas dalam insiden penembakan di Kantor Bupati Deiyai itu. Ketujuh warga sipil yang tewas dalam insiden itu adalah Abinadab Kotouti (24), Hans Ukago (25), Marinus Ikomou (35), Alpius Pigai (29), Derison Adii (24), Pilemon Waine (19), dan Yemi Douw (23). Selain itu, sejumlah 39 warga terluka dalam insiden penembakan itu.

Pastor Santon menyesalkan pernyataan Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto yang menyatakan penembakan di Deiyai hanya menewaskan satu warga sipil. “Menkopolhukam Wiranto menyebarkan isu hoaks, bahwa aparat menembak mati satu orang masyarakat Deiyai. Padahal, investigasi kami di lapangan menemukan fakta korban tewas lebih dari satu orang. Penembakan itu juga melukai 39 warga sipil lainnya di Kabupaten Deiyai,” katanya.

Pastor Santon menegaskan Otonomi Khusus Papua terbukti gagal melindungi harkat dan hidup orang asli Papua. Penembakan terhadap para pengunjukrasa membuktikan bahwa pemberlakuan Otonomi Khusus Papua tidak menghentikan pembunuhan orang asli Papua, dan justru meningkatkan kemiskinan serta ketidakadilan di Papua. Pemerintah Indonesia dinilai telah gagal menangani masalah rakyat Papua dengan cara damai, dan kembali melakukan kekerasan terhadap orang asli Papua.

“Pemerintah Indonesia seharusnya menghargai hak asasi manusia dan demokrasi. Akan tetapi, pemerintahan Joko Widodo telah melenceng dari [prinsip penghormatan] hak asasi manusia. Pemerintah Indonesia tidak mempunyai pikiran dan perasaan akan kemanusiaan. Itu terbukti [dari insiden] penembakan puluhan orang di Deiyai,” katanya.

Pada Kamis (29/8/2019), Kantor Berita Antara melansir pernyataan Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto yang membantah ada enam warga sipil tewas dalam insiden penembakan di Kantor Bupati Deiyai pada Rabu. “Kemarin ada berita bahwa dalam kerusuhan Deiyai itu ada enam masyarakat tertembak. Sampai di luar negeri diumumkan, padahal tidak,” sangkal Wiranto di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis.

Kala itu Wiranto mengatakan dalam kejadian itu satu warga sipil tewas karena terkena panah dan senjata dari masyarakat sendiri. “Ada satu anggota TNI tewas, dua luka. Serta ada empat polisi yang luka-luka,” kata Wiranto.

Pada Jumat (30/8/2019), Wakil Bupati Deiyai Hengky Pigai rangkaian insiden penembakan oleh aparat keamanan di Kantor Bupati Deiyai menewaskan delapan warga sipil tewas dalam insiden itu. Sejumlah 16 warga sipil dirawat di rumah sakit karena terluka.

“Jumlah korban masyarakat sipil itu sudah delapan orang meninggal. Yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Paniai di Madi ada 16 orang. Itu korban yg sudah ditemukan. Akan tetapi, masih ada korban yang dalam pencarian. Jadi, [data] jumlah korban [ini bersifat] sementara,” kata Pigai saat dihubungi melalui sambungan telepon di Waghete, ibukota Kabupaten Deiyai.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top