HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Solidaritas Masyarakat Yapen Anti Rasis ikut turun ke jalan

Solidaritas Masyarakat Yapen Anti Rasis pada Selasa (20/8/2019) berunjukrasa memprotes ungkapan rasis yang dilontarkan kepada para mahasiswa Papua di Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya pada 16 dan 17 Agustus 2019 lalu. – IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Solidaritas Masyarakat Yapen Anti Rasis pada Selasa (20/8/2019) berunjukrasa memprotes ungkapan rasis yang dilontarkan kepada para mahasiswa Papua di Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya pada 16 dan 17 Agustus 2019 lalu. Massa aksi itu membentangkan spanduk,“Kitong OAP bukan monyet, stop rasisme”.

Koordinator aksi,  Philipus Robaha pihaknya menggelar aksi itu pada Senin dan Selasa pekan ini. “Kami menggelar aksi damai untuk memprotes rasisme yang di tunjukan kepada orang asli Papua. Kami bangsa papua ras Melanesia yang punya harkat dan martabat sebagai orang asli Papua,” kata Robaha pada Selasa (20/8/2019).

Robaha menyebut, sejak lama banyak warga Indonesia membenci rakyat Papua, hingga akhirnya melakukan hinaan rasial dengan menyebut orang Papua monyet. “Kami bangsa besar, bangsa Melanesia yang bermartabat. Kami minta referendum bagi masyarkat Papua, itu solusinya,” katanya.

Robaha mengatakan persekusi dan penghinaan rasial yang dialami para mahasiswa Papua di Surabaya sangat tidak pantas, karena Indonesia dan elit kekuasaan di Jakarta terus meraup banyak keuntungan dari Papua.  “Kami diperlakukan seperti binatang di atas tanah kami yang kaya. Tidak ada solusi lain selain kemerdekaan bagi rakyat Papua,” katanya.

Loading...
;

Mama Lince Pigai, satu mama Papua menyebut hinaan rasial yang terjadi di Surabaya itu adalah hasil dari stigma, diskriminasi, dan praktik rasisme yang telah lama ditujukan kepada orang Papua. Hal itu terlihat dari bagaimana aparat negara bisa terlibat melakukan makian rasis terhadap mahasiswa Papua. Para orangtua Papua berharap anaknya kuliah dan berhasil, namun anak-anak mereka malah dilekati stigma separatis dan pengacau.

“Intimidasi, kekerasan terus terjadi dan dilakukan aparat keamanan bersama ormas terhadap anak-anak kami. Negara harus bertanggung jawab karena aktor dari semua ini adalah aparat keamanan,” katanya.

Dalam orasinya, Pigai juga menegaskan para mama melahirkan anak Papua bukan untuk dilekati stigma dan diskriminasi atas nama NKRI, dan bukan untuk mengalami rasisme. “Anak-anak kami selalu diperkosa, dibunuh dan disiksa hanya karena mereka memperjuangkan ideologi kebebasan dan kemerdekaan dari dulu hingga sekarang,” katanya.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top