Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Struktur perekonomian Kiribati menjelang kelulusan LCD

Barang-barang yang diperdagangkan di Tarawa, Kiribati. – Australian National University/ Development Policy Centre/ James Webb

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh James Webb

Dengan jumlah populasi 110.136 penduduk yang tersebar di 33 atol dan lautan seluas 3,5 juta kilometer persegi, Kiribati menghadapi tantangan-tantangan berat dalam bidang ekonomi dan penyediaan layanan publik. Selain menjadi salah satu negara yang paling rentan di dunia, dan yang paling terpengaruh dampak perubahan iklim, tantangan lainnya berasal dari populasi yang tersebar luas, keterpencilan dari pasar-pasar global, terbatasnya lahan pertanian yang subur, dan masalah ganda dimana populasi pulau-pulau terluar sedikit sementara populasi besar tinggal di kawasan ibu kota.

Tulisan ini membicarakan tantangan yang dihadapi negara-negara kepulauan Pasifik yang diharapkan akan lulus dari status negara yang kurang berkembang (LDC), dengan fokus pada Kiribati, yang kelulusannya saat ini sedang ditinjau. Tulisan ini berfokus pada struktur ekonomi Kiribati, yang penting untuk dipahami agar kita dapat menghargai dampak kelulusan LDC. 

Mari kita bandingkan sistem perekonomian Kiribati dengan negara-negara berkembang Pasifik dan negara-negara berkembang kepulauan kecil lainnya: Samoa dan Maladewa (yang telah lulus), dan Vanuatu (yang akan lulus pada 2020). 

Loading...
;

Struktur perekonomian Kiribati sangat berbeda dari tiga negara tersebut. Perbedaan yang paling mencolok adalah ketergantungannya pada sektor perikanan, yang mencakup 26,1% dari ekonomi Kiribati, dibandingkan dengan rata-rata 2,0 % di tiga negara lainnya. Ketergantungan pada konsumsi (belanja) pemerintah (25,7 % di Kiribati) juga jauh lebih besar dibandingkan dengan rata-rata 10,3 % untuk yang lainnya.

Untuk tiga negara sejawat-nya, sektor retail dan jasa mendominasi ekonomi, bahkan sebelum lulus dari status LDC, dan juga merupakan sumber utama perkembangan ekonomi. Sebaliknya, selama tahun 2011 dan 2016, pertumbuhan ekonomi Kiribati naik rata-rata 6,2% per tahun, dengan sebagian besar pertumbuhan disokong oleh industri perikanan (26,2% ), belanja pemerintah (21,1 % ), dan konstruksi (20,7 %) – dimana dua sektor yang terakhir didanai oleh kenaikan pendapatan dari sektor perikanan dan program-program donor. 

Selama periode yang sama, ekonomi Vanuatu tumbuh 1,8 % per tahun, didorong oleh industri konstruksi (27,5%), retail barang dan jasa (26,3%), dan konsumsi pemerintah (19,4%); ekonomi Samoa tumbuh 2,8 % per tahun, didominasi oleh sektor perdagangan (46,0 %), personal dan layanan lainnya (18,6 %), dan transportasi (13,9 %); sementara ekonomi Maladewa tumbuh 3,4 % per tahun, didorong oleh sektor  pariwisata (35,5 %), komunikasi (21,1%), dan konstruksi (17,6%).

Ada beberapa elemen yang mirip antara Vanuatu dengan Kiribati, dalam hal pembelanjaan publik dan konstruksi, namun tidak satu pun dari tiga negara lainnya memiliki pemasukan yang besar dari sumber daya perikanan mereka (kecuali untuk pertumbuhan kecil di Samoa pada 2017/2918, beberapa waktu setelah Samoa telah lulus dari status LDC). Juga penting untuk diingat bahwa tidak satu pun dari tiga negara lain memiliki skema yang serupa, secara ekonomi, dengan skema subsidi petani kopra Kiribati, yang menyumbang 9,3 % dari PDB pada 2016 langsung kepada petani kopra, dan memberikan kontribusi kepada industri yang nilainya hanya 0,5 % dari PDB.

Dari perspektif ini, tampak jelas bahwa kebijakan ekonomi dan pembangunan yang sesuai dengan Kiribati tidak akan selalu cocok dengan kebijakan negara-negara itu. Yang paling penting, peran sektor publik di Kiribati kemungkinan akan menjadi faktor pendorong yang jauh lebih penting, mengingat betapa tinggi persentasenya dari PDB. Ini memang benar, pertumbuhan ekonomi Kiribati baru-baru ini dimungkinkan karena kemampuan pemerintah untuk meningkatkan pembelanjaan, dimana ada ketergantungan yang berat pada pengeluaran publik untuk mendukung kegiatan perekonomian. 

Peningkatan kapasitas fiskal ini juga didukung oleh tingginya pemasukan dari lisensi penangkapan ikan. Khususnya, naiknya harga lisensi penangkapan ikan purse seine dari AS$ 1.350 pada 2011 menjadi AS$ 8.000 pada 2016, yang dengan cepat meningkatkan kapasitas keuangan pemerintah untuk membiayai anggaran yang lebih besar, dan dengan cepat meningkatkan PDB Kiribati. Dalam hal jumlah pendapatan, pemasukan dari izin penangkapan ikan pada 2011 hanya AS$ 29,1 juta (17% dari PDB), tetapi pada 2015 telah melonjak menjadi sekitar AS$ 197,8 juta atau 88 % dari PDB, dan tetap duduk di angka yang tinggi di tahun-tahun berikutnya.

Ekspansi cepat dalam pendapatan dari sektor perikanan ini memiliki dampak yang penting pada posisi fiskal pemerintah, dengan surplus besar dicatat selama 2014 dan 2015. Kedua surplus ini menyebabkan peningkatan signifikan dalam kas posisi pemerintah, dan memungkinkan pemerintah untuk memberikan setoran tambahan di Sovereign Wealth Fund Kiribati (Revenue Reserve Equalisation Fund, atau RERF). Namun, dari 2015 hingga 2018 kita juga bisa melihat peningkatan dalam pembelanjaan pemerintah. Karena tidak ada peningkatan pemasukan lagi sejak mencapai puncak pada 2015, pengeluaran tambahan ini telah mengurangi saldo anggaran.

Pertumbuhan pendapatan dari sektor perikanan ini kemungkinan akan konsisten, karena saat-saat dimana harga penjualan lisensi penangkapan ikan purse seine naik tidak bisa terus-menerus berlanjut selamanya, dan jumlah hari penangkapan ikan yang diizinkan dalam ZEE Kiribati juga perlu dijaga dalam batas yang berkelanjutan, untuk menjaga sektor perikanan tetap berkesinambungan.

Jadi, jika ada batasan dalam jumlah sumber daya yang bisa diambil dari sumber daya perikanan, sektor apa nanti yang akan mendukung pertumbuhan ekonomi Kiribati? Strategi apa yang dapat diratifikasi Kiribati untuk melanjutkan pembangunannya? Apakah kelulusannya dari status LDC akan mempersulit ini? (Development Policy Centre, Australian National University)

James Webb bekerja sebagai konsultan independen di wilayah Pasifik.


Editor: Kristianto Galuwo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top