HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Suku Yerisiam Gua : pelaku rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya harus diadili

Jubir Suku Besar Yerisiam Gua, Gunawan Inggeruhi – Jubi/Titus Ruban.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Nabire, Jubi – Suku Besar Yerisiam Gua, Kabupaten Nabire menyutuk keras tindakan rasisme yang dilakukan ormas dan aparat terhadap mahasiswa Papua di Surabaya dan Makassar.

Menurut Juru bicara (Jubir) suku Yerisiam, tindakan tersebut perlu penegakan hukum yang baik dan benar serta jujur. Bukan sekedar saling maaf -memaafkan. Namun bagaimana agar secepatnya oknum ormas dan juga kalau ada dugaan oknum yang terlibat. bila perlu dipecat demi rasa keadilan bagi rakyat Papua.

“Hal ini harus dilakukan demi keadilan,” ujar jubir suku Yeriasiam Gua, Gunawan Inggehuri di Nabire, Rabu (2/08/209).
Dikatakan, seharusnya negara jangan sampai mengalihkan isu kerusuhan untuk menutupi isi awal yakni rasisme. Sebab penyebab dari semua kejadian di Tanah Papua beberapa hari terakhir adalah isu rasis yang menyebabkan terjadinya kerusuhan.

Padahal kata Inggeruhi, andai sejak awal pelakunya ditangkap maka akan ada rasa keadilan bagi orang Papua. Jika demikian, dia yakin masalah tidak melebar seperti yang terjadi saat ini.

Loading...
;

“Tapi ini kan tidak, terkesan dibiarkan oknum – oknum ini bebas yang akhirnya rakyat Papua marah. Kita lihat oknum pembakar kantor akibat rusuh Manokwari, secepat itu ditangkap. Lalu bagaimana dengan oknum yang menghina OAP di Surabaya maupun Makasar. Apakah dibiarkan begitu saja,” katanya.

Maka, terkait aksi demonstrasi di seluruh Tanah Papua dan lebih khusus di Nabire, menurut Inggeruhi, tidak perlu disikapi dengan cara – cara represif, tetapi seharusnya pemerintah dan aparat membuka ruang secara baik.

Sebab, rasisme menurutnya dilakukan secara terstruktur. Hal yang terjadi di Surabaya adalah bentuk akumulasi dari rentetan terstruktur, misalkan diskriminasi rasial. Contohnya dalam pekerjaan, seperti ASN, Pekerja swasta, dalam bentuk – bentuk usaha. Dan hal ini benar – benar dirasakan masyarakat Papua.

“Jadi ini bukan masalah sepele yang hanya diselesaikan dan saling maaf -maafkan, kami orang Papua punya harga diri sama seperti saudara non Papua,” ujarnya.

Inggeruhi mengimbau kepada saudara – saudara non Papua yang ada di Papua, khususnya di Nabire, untuk tidak perlu menyikapi aksi yang dilakukan selala kemarin maupun yang direncanakan besok secara berlebihan. Apa lagi takut dan panik.

“Kami tidak punya musuh dengan saudara non Papua. Namun rasisme adalah hal lama yang terjadi dan harus dilawan. Kemudian harus ditangani secara serius oleh negara,” ujarnya.

Ia juga meminta non Papua di Nabire bahkan di seluruh tanah Papua agar sebaiknya mengeluarkan pernyataan yang mengikuti jejak Gubernur Sulsel dan Jatim. Hal ini perlu dilakukan agar tidak dipolitisir oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.

Kemudian, jika ada aksi unjuk rasa, sangat diharapkan agar jangan sampai ada penyusup yang coba – coba bergabung untuk memperkeruh keadaan. Baik orang non Papua maupun orang Papua sendiri.

“Dan jika ada orang yang mengancam di lingkungan non Papua maka segera dilaporkan kepada RT/RW setempat atau aparat keamanan. Sangat tidak etis untuk main hakim sendiri. Sebab kasus Surabaya adalah tindakan main hakim sendiri yang menimbulkan kerusuhan di Tanah Papua,” ujarnya.

Terpisah, Sekretaris Suku Yerisiam Gua, Robertini Hanebora menambahkan bahwa orang Papua tidak pernah membenci dan mengusir non Papua.

“Tapi sebaiknya mari kita mengintropeksi diri agar ke depan tidak terulang hal serupa,” tandasnya.(*)

Editor: Syam Terrajana

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top