Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Sumber keturunan OAP sedang dilumpuhkan (Sebuah catatan refleksi)

Ilustrasi perempuan Papua – Jubi/Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Agustinus Sarkol

‘Mama’ Papua

Kehidupan seseorang adalah anugerah dari Tuhan, Sang Pencipta. Proses terjadinya sesorang dalam hidupnya dilandasi dengan kasih yang cukup besar. Kasih itu diterima dari Tuhan dan orangtua.

Berbicara tentang anugerah dari Tuhan, alam, dan orang asli Papua (OAP) adalah bagian dari anugerah itu. Tuhan memberikan kepada OAP alam dan seluruh kekayaannya. Oleh karena itu, bumi dilambangkan sebagai seorang ibu atau mama.

Dari sinilah akan datang segala tetumbuhan dan di sinilah akan hadir berbagai makanan. Sehingga bumi menjadi pusat dari anugerah itu. Begitu pun dengan seorang ibu, dari sanalah akan lahir tunas-tunas muda. Sebagai bagian dari anugerah Tuhan, Sang Pencipta.

Dalam perkembangannya seorang manusia, tentu berawal dari kandungan. Kandungan yang dimiliki oleh seorang ibu/mama. Manusia itu berproses dari sana. Tetapi pertanyaan yang sangat mendasar bagi kita ialah, jika ibu itu hilang, atau lenyap bahkan disiksa dan dibunuh, apalagi yang hendak akan terjadi dengan kandungan itu? Apakah kandungan itu masih berfungsi?

Loading...
;

Seorang mama memiliki peranan penting. Mama adalah sumber mata air dari kehidupan manusia di bumi ini. Kelanjutan keturunan, entah banyak atau sedikit. Karena bagaimana pundi dalam kandungannya menyimpan beribu-ribu harapan.

Bermacam-macam perjuangan. Ada begitu banyak tumpukan kerinduan. Untuk hidup damai, aman, dan sejahtera. Bagi seorang ibu, hidupnya tidak penting. Yang lebih penting ialah kesehatan, keselamatan, dan keberlangsungan hidup putra-putrinya.

Kehancuran ‘Mama’ Papua

Menjejaki beberapa tahun belakangan ini, ada begitu banyak persoalan mengenai penculikan, penganiayaan, bahkan pembunuhan. Hal itu terjadi pada ibu-ibu, dan yang lebih miris lagi ialah terjadi pada ibu-ibu asli Papua. Sebut saja contoh kasus penembakan di tahun 2014 silam, Oktovina Degei, pelajar SD kelas 5 dan Mama Agusta Degei, seorang pekerja di ladang, yang ditembak sebanyak dua kali pada 8 Desember (baca ICP Fransiskan Internasional, Hak asasi di Papua 2015, laporan ke empat  dari koalisi Internasional kepada Papua sepanjang April 2013-Desember 2014).

Tak hanya kasus ini, ada begitu banyak kasus yang terjadi pada masa-masa silam, dan beberapa tahun belakangan ini. Peristiwa yang juga cukup hangat bagi kita adalah penemuan mayat di Nduga, Papua, September 2019. Kebanyakan jenazahnya adalah perempuan.

Dari peristiwa di atas, kita bisa katakan bahwa sumber keturunan sedang diincar keberadaannya. Eksistensi mama-mama Papua menjadi tujuan terpenting dari para pembunuh HAM di Papua. Keberadaan mama-mama Papua bukan sekadar menjadi sumber, bahkan mungkin menjadi momok yang menakutkan.

Alasan bagi para pembunuh HAM di Papua. Mereka (pelanggar HAM) takut akan adanya peningkatan eksistensi orang asli Papua di tanahnya sendiri. Mereka bahkan membuat suatu konflik yang direkayasa sedemikian rupa, sehingga mama-mama Papua pun menjadi korban.

Konflik yang terjadi di pasar, memakan korban para penjual, konflik yang terjadi di hutan, korbannya para petani, konflik yang terjadi di pesisir pantai korbannya ialah para nelayan. Bahkan tidak bisa dipungkiri lagi bahwa korbannya ialah mama-mama Papua.

Apakah masih ada harga diri seorang wanita? Apakah masih ada harga diri sebagai seorang mama? Jika mama-mama Papua terluka, dianiaya, bahkan hingga dibunuh apakah masih ada harga diri sebagai seorang perempuan sekaligus ibu?

Bagi saya wajah seorang mama Papua, mencerminkan alam Papua. Begitu alam dirusak, akan hilang kekayaan yang ada padanya. Begitu pula dengan seorang mama Papua. Jika terus dianiaya, dikejar, bahkan ditembak, dimanakah kehidupan seorang manusia Papua, khususnya sebagai sumber keturunan? Dimanakah citra sebagai manusia yang penuh kasih?

Bagi saya, kehidupan seorang manusia akan berarti jika ia menghargai ibunya. Karena ada kasih sayang setulus hati dari seorang mama. Jika seorang manusia tidak menghargai ibunya, dia dikatakan pecundang bahkan dianggap sebagai anak yang durhaka. Bagi orang asli Papua, baik sadar maupun tidak sadar sumber keturunannya sedang dilumpuhkan. Sumber inspirasinya sedang dimatikan. Sumber cinta kasih dan ketulusan sedang dilenyapkan. Sumber pewarisan kemanusiaannya sedang dibunuh.

Bagi orang asli Papua, alam itu penting. Tetapi jika tidak mengindahkan sumber keturunan “seorang mama”, maka beberapa tahun ke depan, kita lihat bersama bagaimana ladang-ladang akan dihinggapi kerumunan wajah mama-mama baru. Bagi semua orang, mari kita tingkatkan keadilan, namun tak lupa untuk memperhatikan wajah mama-mama Papua. Bagi mereka pembunuh HAM, ingat bahwa menganiaya, memfitnah, membuang, menyeret, bahkan hingga membunuh seorang “Mama Papua”, itu aka terjadi pada mama kalian. Semoga kita semua menghormati mama kita yang sedang berjuang menghidupi kita, khususnya‘mama’ Papua. (*)

Penulis adalah mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura, Papua

Editor: Timo Marten

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top