Tagih uang pemondokan, mahasiswa datangi Kantor Perwakilan Provinsi Papua

Tagih uang pemondokan, mahasiswa datangi Kantor Perwakilan Provinsi Papua

Para mahasiswa asal Kabupaten Mamberamo Tengah, Papua, memdatangi Kantor Perwakilan Provinsi Papua di Jakarta untuk menagih uang pemondokan yang dijanjikan Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah, Kamis (21/3/2019). – Jubi/Screencapture

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi –  Sejumlah mahasiswa asal Kabupaten Mamberamo Tengah yang ada di Jakarta mendatangi Kantor Perwakilan Provinsi Papua di Jakarta, Kamis (21/3/2019) menagih janji Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah membayar uang pemondokan mereka. Upaya sejumlah staf kantor perwakilan meminta mahasiswa untuk pergi terekam video berdurasi 1 menit dan 39 detik yang akhirnya viral.

Pada Kamis, para mahasiswa asal Mamberamo Tengah itu datang dan duduk di pelataran parkir Kantor Perwakilan Provinsi Papua. Mereka menagih janji Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah untuk membayarkan uang pemondokan mereka di Jakarta. Akan tetapi, sejumlah staf Kantor Perwakilan Provinsi Papua berkeberatan dengan kehadiran para mahasiswa, karena program uang pemondokan dari Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah bukan wewenang Pemerintah Provinsi Papua.

Upaya para staf kantor perwakilan membujuk mahasiswa pergi itu terekam video yang akhirnya viral. Dalam video itu tampak seorang staf perempuan membujuk para mahasiswa pergi dari kantor perwakilan itu. “Sekarang adik-adik keluar saja, biar kami bisa beraktifitas. Karena kalian punya bupati sudah perintahkan itu, polisi angkat kalian. (kalau kalian sampai ditangkap polisi), itu kan tidak baik ….,” kata staf perempuan itu.

Saat staf perempuan itu membujuk para mahasiswa, para mahasiswa tidak beranjak. Para mahasiswa tetap duduk, dan salah satu mencoba menjelaskan tuntutan mereka. Akan tetapi, hal itu memicu marahnya seorang staf laki-laki. “Kami punya pimpinan kurang baik apa?” tanyanya dengan nada tinggi.

Seorang mahasiswa mencoba menjawab, namun dipotong lagi oleh bentakan keras staf lelaki itu, “kurang baik apa? Hah? Kurang baik apa?” bentaknya dengan suara keras. Staf lelaki itu melangkah mendekati mahasiswa yang tetap duduk di pelataran itu.

Staf perempuan yang sedari awal membujuk mahasiswa untuk pergi mencoba mengambil alih lagi percakapan. “Jangan Kak, Kak, jangan …,” ujarnya, sebagaimana terekam dalam video yang viral itu.

Staf lelaki itu membentak lagi. “Kita juga punya (batas) kesabaran. Saya juga punya (batas) kesabaran),” katanya. Ia akhirnya mundur, menjauhi para mahasiswa yang tetap duduk di pelataran parkir kantor perwakilan.

Sang staf perempuan itu segera mengambil alih pembicaraan, membujuk lagi para mahasiswa itu pergi. “Kalian mengerti, kita juga mengerti. Kita sama-sama Papua. Kita perempuan Papua. Adik, ko laki-laki Papua. Jadi kalian tolong mengerti kami. Kita sudah memfasilitasi kalian. Bupati kalian suruh (polisi) mengangkat kalian. Tapi kan tidak mungkin … Kami sudah berusaha, kami sudah bicara dengan kalian punya bupati, tapi kalian punya bupati bilang paling polisi, tangkap kalian. (kalau kalian sampai ditangkap polisi) Itu kan tidak bagus,” ujar staf perempuan itu membujuk.

Salah satu mahasiswa asal Mamberamo Tengah yang mendatangi Kantor Perwakilan Provinsi Papua itu, Ambrosius Mulait membenarkan rekaman video itu terjadi pada Kamis. “Itu foto dan video mahasiswa Mamberamo yang diintimidasi,” kata Ambrosius Mulait saat dihubungi jurnalis Jubi dari Jayapura, Kamis.

Pilem Yikwa, kordinator wilayah mahasiswa Mamberamo Tengah di Jakarta menyatakan para mahasiwa yang mendatangi Kantor Perwakilan Provinsi Papua itu merasa terteror oleh perlakuan para staf kantor perwakilan.

Menurut Yikwa, polisi sempat mendatangi kantor perwakilan itu, dan hendak menangkap para mahasiswa. “Setelah kami menjelaskan masalahnya, polisi itu bilang ‘itu urusan rumah tangga kalian.’ Setelah polisi pergi, kami tetap duduk di kantor perwakilan,” kata Yikwa.

Kepala Kantor Perwakilan Provinsi Papua di Jakarta, Alex Kapisa menyatakan sudah enam kali rombongan mahasiswa asal Mamberamo Tengah mendatangi kantor perwakilan untuk menuntut pembayaran uang pemondokan mereka sejak 2018. “Setiap mereka datang, Saya coba fasilitasi mereka, komunikasi dengan bupati. Jawaban dari bupati, sebagian dari anak-anak itu masa studinya sudah berakhir,” kata Alex Kapisa.

Menurut Kapisa, para mahasiswa tersebut juga sudah difasilitasi bicara dengan Gubernur Papua Lukas Enembe melalui sambungan telpon. Setelah itu Gubernur telah bicara langsung dengan Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah.

“Kami bahkan menawarkan untuk memberangkatkan mereka ke Mamberamo Tengah dan bicara langsung dengan pemerintah kabupaten, tapi mereka tidak mau,” lanjut Kapisa.

Ia menjelaskan, memang saat pemerintah daerah Mamberamo Tengah datang untuk memverifikasi para mahasiswa asal kabupaten tersebut, sebagian orang yang mengaku sebagai mahasiswa tidak terdaftar sebagai mahasiswa aktif.  “Sampai malam ini, mereka masih ada di Kantor Perwakilan Provinsi Papua. Kita masih gunakan cara persuasive dengan mahasiswa-mahasiswa ini, Karena bagaimanapun mereka ini dari Papua juga,” ujar Kapisa.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)