Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Tak lolos seleksi penerimaan polisi, anak-anak Papua mengadu ke MRP

Foto ilustrasi, pemeriksaan psikologi calon anggota Bintara Polri tahun anggaran 2019 wilayah Papua – http://tribratanews.papua.polri.go.id

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Putra-putri Papua yang tidak lolos tes kesehatan dan tes psikologi dalam rangkaian seleksi penerimaan anggota Kepolisian RI 2019 berbondong-bondong datang ke Kantor Majelis Rakyat Papua atau MRP di Jayapura, Papua, Senin (1/7/2019). Mereka mengadukan proses seleksi itu kepada Panitia Khusus Afirmasi MRP, meminta penjelasan mengapa mereka tidak lolos seleksi.

Para peserta seleksi penerimaan anggota Kepolisian RI (Polri) itu mempertanyakan kebijakan kuota 70 persen calon anggota Polri bagi putra daerah Papua, karena jumlah anak asli Papua yang lolos seleksi penerimaan Polri tidak mencapai 70 persen dari total jumlah peserta yang dinyatakan lolos seleksi.

Mereka menyatakan sekitar 200 anak asli Papua tidak lolos seleksi kesehatan dan psikologi. Mereka berharap MRP dapat membantu menelusuri penyebab banyaknya orang asli Papua yang gagal lolos seleksi penerimaan Polri itu.

“Kita datang karena tidak lolos [seleksi penerimaan anggota Polri]. [Ada] kuota untuk anak asli Papua, [sebanyak] 70 persen [dari total jumlah calon polisi yang lolos seleksi]. [Kuota 70 persen itu setara 150 orang asli Papua]. Akan tetapi, orang asli Papua yang lolos seleksi penerimaan Polri hanya 123 orang,”ungkap Sefanya Emilio Mofu kepada jurnalis Jubi di Kantor MRP, Senin (1/07/2019).

Loading...
;

Mofu menyatakan ia dan teman-temannya berharap MRP bersuara untuk menelusuri keberadaan sisa kuota bagi 27 orang asli Papua itu. Mofu berharap MRP dapat berkomunikasi dengan Kepolisian Daerah Papua, untuk membantu anak-anak Papua peserta seleksi mewujudkan niat dan harapan mereka menjadi polisi.

“[Kami menyampaikan masalah ini kepada MRP karena sudah] dijanjikan kuota anak asli Papua 70 persen dalam penerimaan Polri. [Kami membawa masalah ini kepada MRP karena ada] kemungkinan penerapan kebijakan afirmatif bagi kami,” ungkap Mofu yang selalu memakai ungkapan “siap” untuk mengawali jawabannya atas setiap pertanyaan jurnalis Jubi.

Mofu mengaku mengikuti seleksi penerimaan anggota Polri karena ingin ikut menjaga keamanan di Papua. Mofu menyakini, keamanan Papua akan terjamin kalau ditangani anak-anak asli Papua. “Kita harus mendorong sumber daya manusia di Papua [untuk maju dan berperan],” kata Mofu.

Seorang peserta seleksi penerimaan anggota Polri 2019 lainnya, Yuliando Aronggear, juga mempertanyakan konsistensi kebijakan kuota 70 persen dalam seleksi itu. Aronggear mempertanyakan mengapa jumlah orang non-Papua yang lolos seleksi penerimaan Polri lebih dari 30 persen.

“Sementara kami yang punya negeri ini, [yang lolos seleksi] masih di bawah kuota afirmasi [70 persen]. Itu kan [membuat kami] heran. Sementara [di antara] kami masih banyak yang ingin jadi polisi,” ungkapnya.

Ketua Panitia Khusus Afirmasi MRP, Edison Tanati menyatakan MRP berencana mengundang Kepala Kepolisian Daerah Papua untuk meminta penjelasan detail tentang proses penerimaan orang asli Papua sebagai anggota Polri melalui jalur khusus orang asli Papua. Tanati menyatakan MRP ingin mengetahui mengapa kebijakan kuota 70 persen bagi orang asli Papua dalam penerimaan anggota Polri gagal terpenuhi.

Taniti juga menyatakan ingin mendapatkan penjelasakan detail mengapa banyak orang asli Papua gagal lolos tes kesehatan dan tes psikologi dalam seleksi penerimaan Polri 2019. “[Panitia seleksi] bilang tidak lolos, tetapi tidak penjelasan detail. [Banyak orang asli Papua] benar-benar jatuh [dalam proses seleksi] karena [tes kesehatan dan tes psikologi] itu. Kalau boleh, [kami ingin ambang batas penilaian lolos seleksi] itu diperjelas,”ungkap dia.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top