Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Tenaga kerja Pasifik jadi subjek karya seni artis Tonga

Foto sebuah jeruk dari pameran ‘If I pick your fruit, will you put mine back?’ oleh seniman Tonga John Vea. – ABC Arts/ Teresa Tan

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Teresa Tan

Kamu mungkin mempertimbangkan jejak karbon saat memilih bahan makanan dari rak-rak supermarket, dan meletakkan kembali asparagus yang telah diterbangkan dari Meksiko. Tapi bagaimana dengan tangan-tangan mereka yang memetik buah jeruk kamu di Australia?

Pada pagi yang cerah Sabtu bulan lalu, selama festival seni Liveworks Festival of Experimental Art di Sydney, ada sebuah kios dengan tiga kotak besar di depannya, foto-foto pemetik buah dan hasil panen juga dipajang di luar pusat seni Carriageworks, tepat di seberang pasar mingguan yang ramai. Sekilas, kios itu bisa disangka kios bidang pariwisata, dengan slogan pemasaran yang meneriakkan ‘Selandia Baru Tanah yang Berlimpah’ dalam bahasa Inggris, Samoa dan Tonga, serta kardus-kardus berisi buah jeruk segar.

Namun, mereka yang mencermati gambar-gambar itu akan menyadari bahwa wajah-wajah dari semua pekerja Pasifik itu terpotong, seperti bilik-bilik foto yang biasanya ditemukan di tempat-tempat wisata atau taman hiburan.

Loading...
;

“Saya senang menciptakan intervensi sosial,” kata seniman Tonga berbasis Auckland, John Vea, kepada ABC.

Karya seni yang dipertunjukkan itu berjudul ‘If I pick your fruit, will you put mine back?’ – sebuah pameran gabungan dari Liveworks dan 4A Centre for Contemporary Asian Art – bertujuan untuk menciptakan wacana seputar politik, etika, visibilitas, dan invisibilitas dari tenaga kerja yang diimpor Pasifik ke Australia dan Selandia Baru.

“Kamu tidak pernah melihat orang-orang yang memetik buah, yang membangun rumah-rumah… kamu hanya melihat produk akhirnya,” terang Vea. “Jadi, bagaimana saya bisa menyoroti hal-hal itu dan agar mereka kelihatan?”

Sepanjang pagi itu, beberapa orang yang lewat berhenti untuk melihat-lihat kios itu, sementara yang lain hanya melangkah masuk untuk berfoto-foto dan melanjutkan harinya – tidak bertanya apa-apa.

“Tergantung dari spektator untuk menilai apakah menurut mereka etis untuk mengambil foto, terserah mereka – dan itulah yang menarik bagi saya,” jelas Vea. “Saya tidak keberatan dengan reaksi publik, saya hanya ingin memulai diskusi.”

Tak dikenal dan tersembunyi

Pekerja asal Moana Nui a Kiwa (bahasa Māori untuk Samudra Pasifik) telah disalurkan melalui skema tenaga kerja musiman Recognised Seasonal Employer (RSE) Scheme di Selandia Baru sejak 2007, dan program Seasonal Worker Programme (SWP) di Australia sejak 2012.

Peneliti dari Australian National University memperkirakan sekitar 16 % dari tenaga kerja bidang hortikultura di Selandia Baru adalah pekerja musiman Pasifik, dan 8 % tenaga kerja bidang pertanian di Australia datang dari Pasifik.

Di Australia, tenaga kerja Pasifik diterbangkan untuk sementara, menutup kekurangan tenaga kerja di industri seperti kapas, tebu, perkebunan anggur, dan hortikultura saat masa panen, hingga mencapai sembilan bulan. Upah minimum per jam di Selandia Baru adalah $ 17,70; di Australia $ 19,49. Namun itu belum termasuk biaya hidup, pemeriksaan berkelakukan baik, asuransi kesehatan, dan banyak faktor lainnya.

Meskipun sebagian pekerja mendapatkan pengalaman yang positif, yang lainnya terjebak di industri-industri yang penuh dengan laporan eksploitasi manusia dan perdagangan manusia.

Kedua skema tenaga kerja itu disebut sebagai bantuan pembangunan untuk kawasan Pasifik, pengaturan ’win-win-win’ dimana semua pihak menang, menurut Jonathan Pryke dari Lowy Institute.

Tetapi Vea bertanya-tanya, apakah negara-negara Pasifik juga menerima keuntungan nyata dari program ini.

“Pekerja musiman adalah bagian dari kehidupan sehari-hari kita, namun mereka tidak dikenali atau tersembunyi,” kata seniman itu.

Harapannya untuk menyoroti tenaga kerja dan populasi yang tidak terlihat itu, berkat kerabat Vea yang juga berpartisipasi dalam skema RSE.

Dengan meniru gerai-gerai informasi yang biasanya dibuka di negara-negara Pasifik untuk merekrut pekerja skema RSE, karya seni Vea ini sederhana namun menunjukkan secara langsung bagaimana Australia dan Selandia Baru, dari persepsi orang-orang Kepulauan Pasifik.

“Saya hanya berbagi perspektif tentang apa yang terlihat dari sana,” tutur Vea.

Memahami persoalan melalui talanoa

Saat ia berusia dua hingga empat tahun, Vea sering ikut ayahnya di pabrik Perikanan Fletcher di Auckland. Kadang-kadang ia juga ikut ibunya ke rumah sakit tempat dimana ia bekerja sebagai perawat terdaftar.

“Kita tidak mampu membayar pra-sekolah, taman kanak-kanak, atau pengasuh anak,” katanya.

Vea saat ini bekerja di pabrik keripik kentang – sambil menyelesaikan PhD-nya – untuk mencari nafkah, mengumpulkan pengalaman dan merasakan perjuangan para pekerja melalui talanoa – sebuah metodologi penelitian di dunia akademik Pasifik.

Akademisi Tonga, Timote M. Vaioleti menggambarkan talanoa sebagai ‘pertemuan pribadi di mana orang-orang menceritakan persoalan mereka, realitas kehidupan mereka, dan aspirasi mereka.’

Talanoa berarti percakapan di Fiji, Samoa dan Tonga,” jelasnya.

“Orang yang ber-talanoa dengan saya berasal dari komunitas tempat saya bertumbuh, yang merupakan komunitas dari golongan sosial ekonomi rendah, migran dari Pasifik dan migran lainnya yang pindah ke Selandia Baru,” katanya.

Bagi Vea, pertukaran kata dan gestur melalui kegiatan talanoa adalah hal yang mempengaruhi karya seninya.

“Saya merenungkan gagasan dan kisah-kisah itu sebagai orang Tonga yang tinggal di Aotearoa.”

‘Petik buah kami’

Vea memulai pameran tunggal pertamanya di Australia pada bulan Oktober, juga berjudul ‘If I pick your fruit, will you put mine back?’ di galeri di Sydney, 4A.

Pameran ini menampilkan empat video, sebuah ‘survival kit’ untuk pekerja musiman dan instalasi partisipatif yang menciptakan kembali ruang makan di pabrik keripik kentang Bluebird dimana Vea dulu bekerja.

Judul pameran dan pertunjukan itu telah ditetapkan jauh sebelum komentar ‘petik buah kami’ Wakil Perdana Menteri Michael McCormack pada Agustus tahun ini. “Itu hanya kebetulan saja,” kata Vea sambil tertawa.

“Kejadian itu hanya membenarkan ketaktahuan dan kurangnya empati, pemahaman dan kepedulian terhadap apa yang dihadapi negara-negara Pasifik dengan perubahan iklim.”

Vea menegaskan bahwa bagi mereka yang tinggal di negara-negara Pasifik, bukti naiknya permukaan air laut adalah kenyataan hidup yang mendesak. “Kalian hanya perlu keluar dari pintu depan untuk melihat air membanjiri jalan-jalan,” katanya.

Menurutnya, pernyataan McCormack berakar dari sistem pemikiran Barat yang hanya fokus pada individu.

“Di Pasifik, kita tumbuh bersama-sama. Pola pikir kita adalah untuk membuat keputusan secara keseluruhan, bukan sebagai individu,” katanya. “Jika satu orang menghadapi suatu situasi, maka kita semua menghadapi situasi itu.”

Di Carriageworks, karya Vea mendapat empati.

Salah satu pemilik kios di pasar itu mendatangi kios Vea dan melakukan talanoa, bersyukur bahwa cerita tenaga kerja akhirnya mulai dibahas.

Kurator 4A, Mikala Tai berharap karya Vea – di luar dan di dalam galeri – akan memulai percakapan penting yang menurutnya belum terjadi.

“Kita berdebat tentang kemasan plastik yang menutupi buah mentimun, dan bukan bagaimana mentimun itu sampai di sini (supermarket),” katanya.

Dia ingin konsumen yang berdiri di bagian buah dan sayuran segar supermarket untuk bertanya pada diri mereka sendiri: mengapa sesuatu harganya begitu murah? (ABC Arts)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top