Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Tiba di Tuvalu, ULMWP siap jelaskan masalah Papua untuk PIF

Ki-Ka : Lora Lini, Benny Wenda, Joey Tau (kordinator media ULMWP) dan Jacob Rumbiak usai registrasi sebagai deserta PIF – Dok. Jubi

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Benny Wenda, Ketua United Liberation Movement for West Papua akhirnya tiba di Funafuti, Tuvalu setelah nyaris gagal terbang dari Fiji. Ia tiba bersama Lora Lini menumpang pesawat komersil, Selasa (13/8/2019) sore.

“Saya Sudah di Tuvalu. Saya tidak bisa berangkat kemarin karena Australia dan Selandia Baru menolak saya menumpang pesawat hercules carteran yang digunakan untuk membawa delegasi Vanuatu dan delegasi lainnya kemarin,” ungkap Benny Wenda.

Wenda menuding Pemerintah Indonesia melalui Kedubes Indonesia di Fiji juga meminta Fiji Air agar tidak menerima dirinya sebagai penumpang. Namun pada akhirnya ia bisa terbang menggunakan Fiji Air setelah pindah airport dari Suva ke Nadi.

“Seharusnya saya berangkat bersama delegasi Vanuatu dan Kepulauan Solomon yang dipimpin Perdana Menterinya masing-masing,” tambah Wenda.

Loading...
;

Selain Benny Wenda, juru bicara ULMWP Jacob Rumbiak juga hadir di Tuvalu untuk mengikuti Pasific Islands Forum (PIF). Rumbiak berada di Tuvalu sejak tanggal minggu lalu. Ia berangkat ke Tuvalu bersama delegasi Samoa Amerika.

Rumbiak mengaku ia telah bertemu dengan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PIF, Dame Meg Taylor.

“Meg Taylor berharap ULMWP hadir lengkap agar bisa menjelaskan persoalan Papua kepada anggota PIF,” kata Rumbiak.

Sikap Sekjen PIF ini menurut Benny Wenda merupakan cerminan sikap PIF yang didirikan sebagai alat perjuangan “self determination” di Pasifik.

“Tidak ada masalah dengan para pemimpin Pasifik dengan kehadiran ULMWP. Tidak boleh ada intervensi dari luar Pasifik. Itu pesannya,” kata Wenda.

Dalam PIF kali ini, ULMWP berada dalam protokol kenegaraan Vanuatu. Lora Lini, utusan Khusus Vanuatu urusan Dekolonisasi Papua untuk negara-negara di kepulauan Pasifik berharap ULMWP terus berkonsultasi dengan Vanuatu sebagai sponsor.

Vanuatu, menurut putri Perdana Menteri pertama Vanuatu, Ham Lini, sudah mengetahui situasi dan kondisi di Papua. Karena isu Papua saat ini nyaris sama sama dengan Timor Leste pada tahun 1990-an.

“Vanuatu akan tetap mengangkat isu HAM Papua,” kata Lora.

PIF, kata Lora bertanya-tanya mengapa Komisaris Tinggi HAM PBB tidak bisa berkunjung ke Papua. Padahal sudah diundang oleh Indonesia.

“Ini yang menjadikan negara-negara Pasifik bersikap seperti saat ini, mendesak Indonesia untuk memastikan kunjungan Komisaris Tinggi HAM PBB, Michele Bachelet ke Papua,” lanjut Lora.

Menanggapi sikap Pemerintah Indonesia yang menolak berunding dengan Benny Wenda dan ULMWP karena dianggap sebagai kelompok separatis, Benny Wenda mengatakan seharusnya Pemerintah Indonesia bertanya, siapa yang merampas Papua? “ULMWP dan saya tidak pernah merampas Papua. Yang merampas Papua itu Indonesia,” ujar Wenda.

Dalam pandangannya, jika Pemerintah Indonesia tetap menolak untuk berunding, maka persoalan Papua ini akan terus berlanjut karena orang Papua mau merdeka, berdaulat sebagai bangsa dan negara sendiri.

Orang Papua, menurut Wenda tidak akan kalah sedikitpun karena memperjuangkan tanah, rakyat dan bangsanya. Sebaliknya Pemerintah Indonesia selama ini sudah mengeluarkan banyak uang dan tenaga melakukan lobby di Pasifik dan Melanesia.

“Kita bisa berunding dan mencari solusi yang bermartabat bagi kedua belah pihak,” kata Wenda.

Dilansir  benarnews.org (12/8/2019), juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Teuku Faizasyah menyatakan protes keras atas tindakan Vanuatu dan penyertaan Benny Wenda sebagai delegasi.

“Kami sudah sampaikan protes melalui duta besar di Fiji pada minggu lalu, baik tertulis maupun bertemu langsung dengan Sekjen PIF di Suva, Fiji, minggu lalu,” kata Faizasyah, kepada BeritaBenar di Jakarta, Senin, 12 Agustus 2019.

Indonesia memang bukan anggota PIF melainkan mitra dialog. Walau demikian, menurut Faizasyah, pemerintah Indonesia sangat menentang tindakan Vanuatu karena membela dan mengikutsertakan Benny Wenda, orang yang memperjuangkan pemisahan Papua dari Indonesia, dalam delegasinya.

“Dalam hubungan antar-negara, mendukung pemisahan satu negara itu bertentangan dengan prinsip dari PBB,” imbuhnya. (*)

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top