Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Tidak semua orang Samoa Amerika ingin jadi warga negara AS

Filipo Ilaoa (kiri) dan Bonnelley Pa’uulu berpose dengan bendera Samoa Amerika di Kantor Pemerintah Samoa Amerika di Honolulu. – AP Photo/Jennifer Sinco Kelleher

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Jennifer Sinco Kelleher

Bertumbuh di Samoa Amerika, tetangga Filipo Ilaoa adalah sepupu-sepupunya, di sebidang tanah penuh pohon pisang dan sukun yang ditempati oleh semua keluarga besarnya dan diawasi oleh seorang kepala suku yang dipilih oleh kerabatnya.

Ia khawatir putusan hakim federal baru-baru ini di negara bagian Utah di Amerika Serikat, yang menetapkan bahwa mereka yang lahir di wilayah bagian dari AS harus diakui sebagai warga negara AS, dapat mengancam ‘fa’a Samoa’, gaya hidup Samoa, yang mencakup tradisi dan budaya seperti jam berdoa malam, hidup komunal, dan kepercayaan bahwa tanah di kepulauan itu harus tetap ada di tangan keluarga Samoa.

“Pada dasarnya, apa yang paling ditakutkan adalah kebebasan-kebebasan untuk memiliki tanah komunal,” kata Ilaoa, 66, seorang purnawirawan Sersan Mayor di Korps Marinir AS yang sekarang bekerja di Kantor Pemerintah Samoa Amerika di Hawaii.

Pada Desember, Hakim di AS, Clark Waddoups, membela tiga orang dari Samoa Amerika yang tinggal di Utah yang menuntut agar mereka diakui sebagai warga negara AS. Hakim itu memutuskan bahwa semua warga Utah berhak atas kewarganegaraan berdasarkan tempat kelahiran atau ‘ius soli’, berdasarkan Amandemen ke-14. Ia kemudian menunda keputusannya sambil menunggu pengajuan banding.

Pemerintah AS, yang berpandangan bahwa ius soli adalah keputusan yang harus diambil Kongres, mengajukan banding Jumat (7/2/2020). Pemerintah Samoa Amerika juga diperkirakan akan mengajukan banding dan diberikan waktu hingga Senin, untuk mengajukannya.

Loading...
;

Samoa Amerika adalah satu-satunya wilayah di AS dimana penduduknya tidak memiliki hak untuk langsung menjadi warga negara AS. Alih-alih, mereka yang lahir di kumpulan pulau sekitar 4.184 kilometer barat daya Hawaii itu diberikan status ‘U.S. national’. Ini artinya mereka tidak bisa memilih Presiden AS, mencalonkan diri di luar Samoa Amerika, atau melamar pekerjaan tertentu. Satu-satunya pemilihan federal dimana mereka dapat memilih adalah pemilu untuk kursi delegasi DPR AS dari Samoa Amerika.

Pendukung keputusan ius soli berkata perubahan ini sangat bermanfaat bagi sekitar 150.000 hingga 160.000 ‘U.S. national’ asal Samoa Amerika yang tinggal di AS, sebagian besar di California, Hawaii, Washington, Utah, dan Alaska.

Populasi wilayah itu hanya sekitar 55.000 jiwa. Namun, banyak yang berkata bahwa mereka bahagia menjadi U.S. nationals dan khawatir ius soli akan mempengaruhi adat istiadat mereka, seperti sistem kepemilikan tanah yang unik.

“Saat ini pemerintah Amerika Serikat tidak memiliki sedikit pun tanah di Samoa Amerika,” kata Ilaoa, yang meninggalkan desanya di Leone saat berusia 18 tahun untuk bergabung dengan Korps Marinir AS dan kemudian menjadi warga negara AS, agar dapat memenuhi persyaratan untuk pekerjaan militer yang memerlukan izin rahasia. “Kita bisa membangun apa pun yang kita inginkan. Kapan saja kita mau.”

Sebagian besar properti di Samoa Amerika dimiliki secara komunal sebagai keluarga. Di desa-desa, ada tahan komunal tempat keluarga besar tinggal bersama-sama. Anggota keluarga memilih seorang kepala suku, atau matai, untuk mengelola kehidupan desa dan mengawasi lahan tersebut.

Hukum Samoa melarang penjualan sebagian besar properti kepada siapapun yang darahnya kurang dari 50% keturunan Samoa.

“Masih ada larangan berbasis ras tentang kepemilikan tanah,” kata Michael Williams, seorang pengacara di Washington, D.C. yang mewakili pemerintah Samoa Amerika dalam menentang putusan tersebut. “Dan untuk berkata bahwa seorang warga negara AS tidak bisa memiliki tanah karena peraturan rasial, hal semacam ini yang diharapkan akan dipertanyakan oleh pengadilan.”

Beberapa merasa tidak senang ada hakim yang jauh dari mereka, mengambil keputusan tentang hubungan mereka dengan AS, kata Williams.

“Semua orang bisa datang dan memaksakan hak mereka di suatu desa yang dirancang dengan sempurna sesuai dengan kebutuhan setiap keluarga yang menempati tanah itu,” kata Tisa Fa’amuli, pemilik Bar Tisa di Desa Alega di Tutuila, pulau utama di Kepulauan Samoa Amerika.

“Intinya, kita sangat bangga dengan diri kita,” katanya. “Kita mencintai diri kita, dan kita tidak ingin mengubah apa-apa.”

Ada juga keprihatinan bahwa ius soli akan mengganggu norma-norma agama seperti jam doa malam, yang diberlakukan oleh pemimpin lokal di wilayah itu, dimana 100 % orang Samoa dilaporkan sebagai penganut Kristen, menurut Pemerintah Samoa Amerika.

Bonnelley Pa’uulu, Pejabat Plt. Direktur Kantor Pemerintah Samoa Amerika di Hawaii, menyampaikan pada pukul 6 sore polisi desa akan membunyikan bel yang menandakan sudah waktunya untuk kembali ke rumah-rumah untuk doa keluarga.

“Mewajibkan jam malam kepada warga negara AS bisa disebut tidak konstitusional di bawah hukum yang berlaku,” kata Pemerintah Samoa Amerika, dalam sebuah pengajuan banding yang menentang putusan tersebut.

Sudah ada jalur untuk mendapatkan kewarganegaraan AS bagi mereka yang menginginkannya. Tetapi itu dilaporkan mahal dan rumit.

Roy J.D. Hall Jr., yang menetap di Desa Viatogi, berkata ia menjadi warga negara AS lebih dari 50 tahun yang lalu, ketika itu lebih mudah. Sebagai seorang pengacara, ia membantu orang-orang lain untuk mendapatkan kewarganegaraan mereka, yang katanya sekarang memerlukan lebih banyak dokumen dan biaya pengajuan sebesar $ 750.

Rintangan seperti itu tidak adil, katanya: “Mengapa mereka yang tinggal di Amerika Serikat tidak diberi kewarganegaraan dan semua manfaat yang seharusnya mereka terima?”

Sailau Timoteo mencalonkan diri untuk menjadi anggota DPR negara bagian Hawaiʻi pada 2018. Saat itu ia baru mengetahui bahwa dia tidak memenuhi syarat untuk mengajukan diri karena dia bukan warga negara AS. Dia berkata, saat itu, bahwa dia tidak sadar karena dia lahir di Samoa Amerika statusnya adalah sebagai warga negara kelas dua.

Pa’uulu memilih untuk tetap menjadi ‘U.S. national’, meskipun suaminya yang merupakan anggota militer AS memilih untuk menjadi warga negara. Dia tidak merasa kehilangan apa pun sebagai ‘U.S. national’- dia bisa bepergian dengan bebas.

Mempertahankan struktur kepemilikan tanah itu penting bagi Pa’uulu, karena dia berencana untuk kembali ke tanah airnya suatu hari nanti. “Tanah itu mengikat kita kembali ke nama keluarga kita, dan itu rumah kita,” tuturnya.

Pemimpin-pemimpin adat Samoa Amerika secara sukarela menyerahkan kedaulatannya kepada pemerintah AS pada 1900.

Kebiasaan dan budaya wilayah itu berkembang dan ada hukum yang melindungi mereka, kata Charles Ala’ilima, salah satu pengacara yang mewakili ketiga kliennya yang ingin mendapatkan kewarganegaraan AS.

“Tradisi dan budaya Samoa 200 tahun lalu tidak termasuk agama Kristen,” katanya. “Tapi, tidak ada yang akan berkata sekarang bahwa adat dan budaya Samoa tidak termasuk agama Kristen.”

Dari perspektif hukum, pemberian kewarganegaraan otomatis sejak lahir tidak akan menyebabkan runtuhnya sistem kepemilikan tanah Samoa Amerika, kata Rose Cuison-Villazor, seorang ahli imigrasi, kewarganegaraan, dan hukum properti di Rutgers Law School di New Jersey.

Ia sendiri berasal dari Persemakmuran Kepulauan Mariana Utara (CNMI), wilayah AS yang dimana prinsip ‘ius soli’ berlaku, dimana pengadilan AS telah menegakkan persyaratan kepemilikan tanah yang diperbolehkan hanya untuk mereka yang memiliki lebih dari 25 % leluhur Mariana Utara.

“Kewarganegaraan tidak akan memiliki efek domino yang ditakutkan oleh orang-orang,” kata Sean Morrison, mantan asisten Jaksa Agung Samoa Amerika yang sekarang tinggal di New Orleans. “Saya rasa kekhawatiran terbesar adalah … Kita tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh hakim ke depannya.”

Sebelum keputusan itu, Amata Coleman Radewagen, delegasi Samoa Amerika di DPR AS, memperkenalkan sebuah RUU untuk mempermudah pemberian kewarganegaraan bagi warga Samoa Amerika. RUU itu akan memungkinkan U.S, nationals untuk menjadi warga negara tanpa harus meninggalkan Samoa Amerika, seperti yang berlaku saat ini. Orang-Orang Samoa Amerika juga tidak lagi harus mengikuti tes kewarganegaraan, dan akan ada kemudahan untuk biaya pengajuan.

RUU itu kini sedang ada di tangan Natural Resources Committee, ada kemungkinan akan dibahas dalam sidang tahun depan, kata juru bicaranya, Joel Hannahs. (The Diplomat)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top