Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Tiga terdakwa rasisme Mahasiswa Papua di Surabaya terancam 6 tahun penjara

Aksi demo penolakan rasisme di Papua – Jubi/Agus Pabika

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Tiga orang yang didakwa sebagai pelaku kasus ujaran kebencian dan penyebaran hoaks pada mahasiswa asal Papua di Asrama Mahasiswa Kamasan Surabaya pada 16 Agustus 2019 lalu terancam hukuman enam tahun penjara.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Mohamad Nizar dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya di Jawa Timur, Rabu, 27 November 2019 lalu mangatakan Susi melontarkan ujaran rasial saat diwawancarai salah satu televisi tentang ada perusakan bendera di depan asrama mahasiswa Papua di Surabaya. Saat itu Susi menyatakan bahwa para mahasiswa tersebut merobek bendera merah putih itu, mematahkan tiangnya melemparkannya ke got.

“Susi juga menyebarkan pesan lewat grup WhatsApp dengan nada memprovokasi, memanggil massa, agar datang ke asrama mahasiswa Papua,” ujar Nizar, dikutip Berita Benar.

Terdakwa Ardian juga didakwa menyebar informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan, dengan mengunggah video lewat channel YouTube-nya.

Sementara terdakwa Syamsul didakwa secara sengaja menunjukkan kebencian kepada orang lain berdasarkan diskriminasi ras dan etnis, demikian menurut Novan.

“Jika tuduhan pada ketiganya ini terbukti, ketiganya bisa dihukum enam tahun penjara,” jelas Nizar.

Loading...
;

Tim penasihat hukum para terdakwa, Sahid, mengatakan dakwaan yang ditujukan jaksa tidak berdasar, terlebih terhadap Susi yang dikenai pelanggaran atas pasal Informasi Transaksi Elektronik (ITE).

Menurut Sahid, dakwaan JPU tidak memenuhi unsur, di antaranya tidak memiliki maksud dan tujuan yang jelas. Untuk itu, pihaknya akan melakukan eksepsi atau patahan terhadap pasal-pasal yang dinilai tidak relevan.

“Kami akan melakukan eksepsi,” kata Sahid.

Berita Benar melaporkan setelah mendengarkan pembelaan para terdakwa, hakim memutuskan sidang ini akan dilanjutkan pekan depan.

Dalam insiden tanggal 16 Agutus itu, para mahasiswa Papua mengaku tidak tahu menahu atas kasus masuknya bendera itu ke selokan, namun keesokan harinya massa yang berkumpul di luar asrama tersebut semakin banyak. Sejumlah dari mereka melemparkan batu dan meneriakkan kata-kata rasis seperti “monyet” dan “babi”. Insiden ini kemudian memicu gelombang besar aksi demonstrasi penolakan sikap diskriminasi dan rasisme di Tanah Papua. (*)

Editor : Victor Mambor

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top