HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Tim relawan kembali buka sekolah darurat, dinas akui tidak ada persetujuan

Anak-anak pengungsi Nduga saat kembali bersekolah di sekolah darurat Weneroma, Jayawijaya, Senin (19/8/2019)-Jubi/Islami

Papua No. 1 News Portal | Jubi
Wamena, Jubi – – Tim relawan pengungsi Nduga di Jayawijaya, kembali membuka sekolah darurat untuk anak-anak pengungsi di halaman Gereja Kingmi Jemaat Weneroma, Ilekma, Jayawijaya, Senin (19/8/2019).

Sebelumnya sejak pekan lalu, tim relawan telah memperbaiki bangunan sekolah darurat yang sudah mulai rusak, karena dindingnya hanya ditutupi terpal.

Di hari pertama, Senin (19/8/2019) timrelawan baru mendata anak-anak yang ada baik dari tingkat TK hingga SMA bagi yang masih berada di Jayawijaya, dan juga membagikan buku tulis bagi setiap anak.

Bahkan di hari pertama itu, relawan masih memperbaiki ruang kelas yang ada, sehingga ada sejumlah anak-anak yang belajar di halaman gereja karena terbatasnya ruang kelas.

Raga Kogoya salah satu relawan menyebutkan, mereka sejak 5 Agustus 2019 telah melakukan pendaftaran dan pendataan anak-anak sekolah. Pada 19 Agustus barulah dimulai proses belajar meski bangunan belum rampung hingga guru-guru belum berada di Wamena.

Loading...
;

Sementara siswa di 31 distrik yang telah didata tim relawan sebanyak 28 anak Taman kanak-kanak, SD kelas 2-6 sebanyak 506 siswa, siswa SMP 120 anak, siswa-siswi SMU 19 anak dan SD kelas 1 yang baru masuk sebanyak 161 anak, dengan jumlah total 834 siswa.

“”Saya sudah telepon Sekda, saya bilang siswa paling banyak ada di Jayawijaya sehingga saya minta kirim guru-guru kembali yang ada di Keneyam (ibu kota Nduga), tetapi jawabannya nanti kami bicara, minggu kemarin sebenarnya guru-guru sudah harus ada di sini, tetapi tidak sampai sekarang belum ada,”” katanya.

Menurut Raga Kogoya, selain anak-anak yang pada tahun ajaran lalu bersekolah di sekolah darurat, ada pula anak-anak yang baru datang dari kampung.

Apalagi katanya, khusus bagi siswa-siswi kelas 6 SD, IX SMP dan XII SMA yang perlu menjadi perhatian karena tahun depan akan menghadapi ujian.

Untuk itu, tim relawan mengambil inisiatif untuk membuka kembali sekolah darurat di Weneroma yang sejak dua minggu lalu telah mempersiapkan segala sesuatunya, bahkan dengan dibantu seorang guru ASN dan seorang guru honorer, relawan siap untuk mengajar.

“”Kami butuh Pemda buka tangan, buka hati untuk kirim kembali guru-guru untuk mengajar karena anak-anak ada di sini, saya tidak mau mereka ditelantarkan,”” kata Raga Kogoya.

Raga juga akui jika hal ini telah dikoordinasikan dengan dinas pendidikan Nduga. Hanya saja memang mereka masih menunggu instruksi dari sekda maupun bupati.

“Untuk memperbaiki sekolah darurat itu, pihaknya mengandalkan sumbangan masyarakat atau bantuan untuk tim relawan.

Tidak ada (bantuan) dari pemda dan dinas untuk belanja papan, kayu dan segala macam. “Harapan kami, kalau bisa Pemda dan Dinas Pendidikan datang melihat sekolah ini, kalau bisa guru-guru kirim ke Jayawijaya,”” ujar dia.

Koordinator tim relawan, Ence Geong menyampaikan pihaknya tidak punya hak apa pun untuk memutuskan apakah anak-anak berkeinginan pindah atau tidak, tetapi otoritas tertinggi ada pada anak-anak, mereka yang menentukan mereka ingin bersekolah dimana.

“”Kalau mereka putuskan mau sekolah di sekolah darurat kami dukung, dan kami siap fasilitasi karena itu hak mereka. Entah mereka pilih dimana saja kami dukung, namun faktanya anak-anak semuanya memilih di sekolah darurat bukan ke sekolah yang ditawarkan di Jayawijaya,”” katanya.

Pasalnya kata Ence, ada tiga pertimbangan yang selalu disampaikan anak-anak. Pertama masalah bahasa, kedua soal perbedaan kualitas pendidikan yang selama ini diterima, dimana mereka di kampung yang gurunya jarang ada, sementara di kota sudah banyak guru dan lancar belajarnya, ketiga adalah masalah trauma.

“”Ini yang terpenting, karena selama ini kita belum menyentuh soal aspek trauma, sehingga kami tegaskan lagi bahwa kami tidak punya hak untuk memutuskan, anak-anak yang memutuskan dan itu sudah beberapa kali baik di hadapan Sekda maupun dinas maupun juga ketika di hadapan bupati anak-anak memutuskan bahwa hanya ingin sekolah di sekolah darurat,”” ucapnya.

Maka dari itu, hal ini haruslah menjadi tanggungjawab negara sedangkan relawan hanya bekerja secara sukarela, yang terpenting adalah hak akan pendidikan anak-anak pengungsi Nduga terpenuhi.

“”Pemerintah harusnya bertanggungjawab penuh, meski kami mengerti kondisi dinas pendidikan dan pemda Nduga sejak semester lalu mereka banyak ditekan, tetapi kami berharap dinas tetap mau bekerjasama mengajar anak-anak disini, karena mau sekolah dimana saja ketika anak-anak merasa tidak nyaman tidak ada gunanya,”” katanya.

Ia juga meminta, setelah adanya kunjungan dari UPT Kementerian Pendidikan di Provinsi Papua dan Ombudsman, agar mendukung pendidikan anak-anak Nduga ini harus terus berjalan, sehingga ia harap agar seluruh pihak dapat menyingkirkan dulu kemauan masing-masing. Hargai hak masyarakat untuk pemenuhan anak-anak akan pendidikan.

Akan perjuangkan anak-anak Nduga terdaftar di Dapodik

Raga Kogoya juga akui jika tim relawan akan terus berjuang agar bagi siswa-siswi yang baru masuk kelas 1 SD, kelas VII SMP dan kelas X SMA dapat terdaftar di Data pokok pendidikan (Dapodik) kementerian pendidikan dan kebudayaan.
““Tanggungjawab kami, akan daftarkan masing-masing distrik atau sekolah dimana mereka sekolah dulu di kampung yang mereka tinggalkan. Tim relawan akan usahakan setiap anak yang sekolah di sekolah darurat ini masuk dalam dapodik dan kami akan cek itu,”” katanya .

Dinas Pendidikan akui sekolah darurat tak lagi digunakan

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Nduga, Jennes Sampoue mengatakan ia telah menerima intruksi dari pemerintah daerah melalui Sekda, yang menyatakan sekolah darurat Wamena ditutup.

“”Anak-anak diberi pilihan mau pindah ke Wamena dan yang mau ke pos ke tempat aman silahkan dan yang mau pindah ke Keneyam silahkan. Saya sudah sampaikan ke tim relawan, dimana sekolah darurat di Wamena sudah ditutup dan jika ada sekolah darurat di sana lagi bukan menjadi tanggungjawab dinas lagi,”” katanya saat dihubungi, Selasa (20/8/2019).

Menurutnya, sekolah darurat di Weneroma awalnya dibuat hanya untuk mengakomodir siswa siswi untuk ikut ujian nasional, dan di tahun ajaran baru ini sekolah itu tidak lagi akan digunakan.

Sejauh ini kata dia, dinas tidak mendapat laporan dari mana saja siswa siswi yang ada di Jayawijaya dan mulai bersekolah lagi di Weneroma, meski disebut tim relawan masih banyak anak-anak berada di Jayawijaya.

“”Kita sudah sampaikan ke kepala sekolah dan guru-guru, sesuai petunjuk Pemda jika sekolah darurat tidak ada lagi. Meski memang ada sejumlah guru yang bilang jangan dilihat dari sisi politiknya, tetapi kita lihat dari sisi kemanusiaan sehingga harus dibantu, namun saya tidak berani mendrop guru-guru ke Wamena tanpa seijin dari atasan saya sekda atau bupati,”” katanya.

Ia juga mengaku jika sejauh ini ada sekitar 1.000 anak sekolah baik SD, SMP dan SMA telah bersekolah kembali di Keneyam di tahun ajaran baru ini.

“Di Keneyam sudah buka sekolah pagi dan siang hari, di sana ada sekitar 1000 lebih merupakan anak-anak gabungan dari distrik Keneyam dan anak-anak dari distrik yang terkena konflik.

Sedangkan SD di Mbua juga sudah berjalan baik dan di daerah Giarek, Wosak dan daerah yang aman sudah berjalan. Untuk SMA Mbua, sebenarnya para guru dan siswa sudah siap berangkat untuk kembali kesana. ”Tetapi adanya kejadian kemarin di Habema, sehingga mereka laporkan belum siap mengajar,”” ucapnya. (*)

Editor: Syam Terrajana

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top