Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

TK dan SD Yegeka Enarotali terbakar, 153 murid butuh sekolah darurat

Puing-puing sisa bangunan sekolah Yegeka yang terbakar Zely Ariane/Jubi

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Enarotali, Jubi – TK/PAUD dan SD Yegeka di Ugibutu, Bobaigo Enarotali, Kabupaten Paniai, terbakar Selasa (22/10/2019) sore jelang malam hari. Bangunan setengah beton itu hangus bersisa puing dan fondasi saja.
Bangunan sekolah sebelumnya terdiri dari tiga ruang kelas, satu kediaman guru, dan satu kios merangkap kantin kecil. Semuanya berderet dalam satu atap. Di depan sekolah, di halaman yang sama, berjarak hanya dua meter, terletak bangunan kantor Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA) yang terbuat dari kayu.
Api bersumber dari bangunan kantor YAPKEMA yang sejak banjir tahun 2018 tidak lagi digunakan sepenuhnya, karena kondisi yang sudah tidak layak. Sementara TK dan SD Yegeka adalah milik YAPKEMA.
Menurut Marius Uti, seorang pemuda yang tinggal di belakang sekolah, api diduga bersumber dari kompor di dapur bangunan kayu. Dengan cepat menyambar dinding kayu dan menyebar ke gudang kecil tempat dokumen-dokumen dan buku YAPKEMA.
“Kami tidak sempat padamkan api karena cepat sekali menyambar sekolah, kursi-kursi plastik, meja kayu, dan perlengkapan sekolah yang mudah terbakar,” ujar Uti kepada Jubi, Rabu (23/10/2019) sambil menyeka titik-titik air mata di kedua matanya.
Uti menceritakan bagaimana malam itu warga sekitar dan beberapa orang tua murid yang datang ke lokasi menangis menyaksikan api melahap sekolah dengan cepat. Sekolah Yegeka sangat berarti bagi mereka, apalagi masyarakat Ugibutu.
Berdiri tahun 2013, Yegeka bermula dari sekolah TK yang sangat sederhana di samping kantor Yapkema. Berkat kerja keras Yapkema, sukarelawan guru, didukung oleh berbagai pihak, mulai dari orang tua murid, pemerintah, gereja dan masyarakat sekitar, sekolah ini berkembang pesat.
Tiga tahun terakhir TK/PAUD Yegeka mulai membuka kelas SD. Saat ini ada 90 orang murid TK, dan 60 murid SD, masing-masing 30 murid di kelas 1, 18 murid kelas 2, dan 15 murid di kelas 3.
Pelan-pelan Yegeka berkembang dengan bangunan yang baik dan perlengkapan cukup lengkap. Sejak awal berdiri, murid-murid Yegeka memang masyarakat asli Papua. Dari hanya sekolah informal dengan dua orang guru, sekarang telah memiliki tujuh orang guru.
Seorang diantaranya, Blandina Degei, adalah warga setempat, yang belajar baca tulis semula dari sekolah informal ini, kemudian ia menjadi guru TK. Yegeka memang bukan sekolah biasa, guru-gurunya juga mengajar baca tulis untuk masyarakat sekitar, utamanya Mama-mama Papua.
Tak heran jika hangusnya sekolah ini membuat banyak warga dan orang-orang tua sangat berduka.
 
Sekolah darurat
Para guru, Direktur Yapkema, beberapa orang tua murid, dan murid TK/PAUD dan SD Yegeka sedang berkumpul di puing-puing bekas sekolah yang terbakar, Kamis pagi (24/10/2019) di Ugibutu, Bobaigo Enarotali, Kabupaten Paniai – Zely Ariane/Jubi

Susana, Kepala Sekolah TK/PAUD, dan suaminya Nurdianto, Kepala Sekolah SD,  yang keduanya merangkap menjadi guru di Yegeka adalah korban dari peristiwa naas ini. Mereka tinggal di kediaman guru, di salah satu ruangan di bangunan sekolah.

“Tidak ada yang sempat saya selamatkan, hanya surat-surat penting dan baju yang menempel, hp laptop semua habis, dokumen sekolah juga tak sempat diselamatkan,” ujarnya kepada Jubi saat guru berkumpul bersama semua murid di atas reruntuhan dan puing sekolah, Kamis pagi (24/10/2019).
“Kami sementara tinggal di rumah bapak gembala kami di Madi,” lanjutnya.
Pagi itu guru-guru dan murid berkumpul di atas fondasi sekolah, yang sebelumnya jadi salah satu ruang kelas. Suasana haru namun terasa dipenuhi semangat dan optimisme.
Direktur Yapkema, Hanok Herison Pigai, yang juga hadir pagi itu mengajak semua anak dan beberapa orang tua yang hadir untuk bahu membahu membersihkan sisa-sisa sekolah.
“Ini pesan Tuhan buat kita, mungkin dengan kerja keras kita akan bisa punya sekolah yang lebih bagus lagi. Tapi sementara ini kita akan bangun sekolah sementara dari apa yang ada, yang penting anak-anak dan orang tua tetap semangat,” ujarnya di hadapan murid, guru-guru dan orang tua.
Kepala sekolah SD, Nurdianto, dan Susana istrinya, yang menjadi korban peristiwa ini, sama-sama mengatakan tak perlu lama-lama berduka, mengingat para murid sangat butuh pendidikan.
“Ada masa duka tapi buat apa juga berlama-lama meratapi toh sudah terjadi, ya udah semangat aja, anak-anak tetap masuk, guru-guru juga. Yang membuat kita kuat itu passion ya, kasih dan cinta untuk anak-anak Papua itu membuat kami kuat,” ungkap Nurdianto.
Susana juga mengatakan semua guru dan murid sudah siap belajar lagi di tempat manapun yang memungkinkan. “Kami tidak mau kalau anak-anak libur  nanti mereka hilang, ntah ke kampung atau kemana, pelajaran jadi lupa, sementara anak-anak disini sangat membutuhkan pendidikan,” katanya.
Susana berharap pemerintah juga bisa membantu tempat untuk sekolah darurat, sambil menunggu dibangunnya sekolah sementara. “Saya berharap ada tempat buat kami pakai sementara, gedung apapun itu ataupun tenda tidak masalah, kami bisa lesehan dengan karpet atau tikar. Yang penting anak-anak bisa kumpul dan belajar seperti biasa,” ujarnya.(*)

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top