Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Tolak hoaks dan peningkatan kapasitas guru

 

Suasana kegiatan “Peningkatan Kapasitas Guru dan Kampanye Melawan Berita Bohong” yang digelar Jubi dan Balai Bahasa Papua, Rabu, 13 Februari 2019 – Jubi/Hengky Yeimo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

“Seharusnya pelatihan ini diberikan kepada jurnalis, bukan kepada kita,” kata salah seorang guru SMA di Kota Jayapura, dengan nada kelakar.

“Ah, karena kita (guru) yang melahirkan jurnalis,” jawab guru lainnya, disambut tawa dan tepuk tangan.

Awalnya mereka mengikuti materi dengan serius, sebab tiap peserta mempertahankan argumennya masing-masing. Dua dialog ini lantas menengahkan situasi. Pembawaan materi menjadi rileks. Materi cepat meresap. Lantai 2 gedung Balai Bahasa Provinsi Papua dan Papua Barat, Rabu siang, 13 Februri 2019 menjadi riuh-rendah.

Loading...
;

Belasan guru bahasa Indonesia dari sembilan SMA di Kota Jayapura, yang menjadi peserta kegiatan bertajuk “Peningkatan Kapasitas Guru dan Kampanye Melawan Berita Bohong”, yang digelar Jubi dan Balai Bahasa Papua, semakin penasaran.

Sesi pertama, Rabu pagi, tentang hoaks dan bagaimana menangkalnya. Dibawakan oleh Dickrilhakim Iriawan dari Koran Jubi dan www.jubi.co.id, dilanjutkan sesi kedua tentang bahasa Indonesia ragam jurnalistik oleh Normawati dari Balai Bahasa Papua.

Editor rubrik olahraga, Jean Bisay, yang mengawali kegiatan ini mengatakan peningkatan kapasitas guru dan kampanye melawan hoaks digagas Jubi dan bekerja sama dengan Balai Bahasa.

Tahun 2018, kegiatan yang sama dikemas dalam pelatihan jurnalistik “Jubi Goes To School” bagi pelajar SMA se-Kota dan Kabupaten Jayapura. Kala itu Jubi mengunjungi tiga sekolah—SMA Advent Doyo Baru, Kabupaten Jayapura, SMA Adven Argapura dan SMA Yayasan Pendidikan Kristen Diaspora Kotaraja, Kota Jayapura.

Namun, tahun ini kegiatannya dikemas secara berbeda. Kampanye tolak hoaks dan literasi media dilakukan selama dua kali. Model pertama diikuti guru-guru bahasa Indonesia, dilanjutkan pelatihan jurnalistik bagi pelajar bulan depan. “Program ini merupakan rangkaian kegiatan dari program Jubi di antaranya, diskusi per tiga bulan, Jubi Goes To School, dan kegiatan internal lainnya,” kata Bisay.

Bisay melanjutkan, program yang digelar medianya bukan sekadar seremonial. Lebih dari itu, merupakan bentuk kepedulian Jubi terhadap peningkatan kapasitas guru, siswa, dan publik agar lebih melek media dan menolak hoaks yang kian marak.

Dia berharap agar para peserta berpartisipasi dalam penulisan karya jurnalistik, semisal opini, artikel, esai, dan tulisan lainnya. Pada gilirannya dapat meningkatkan kompetensi mereka. Bersyukur jika buah pikiran itu dibukukan, sehingga bakal dibaca masyarakat di Tanah Papua.

“Informasi ini juga dapat disampaikan kepada anak-anak sekolah. Kami juga berterima kasih kepada Bapak/Ibu guru yang telah hadir,” kata Jean, sapaan pria asal Kepulauan Yapen Papua ini.

Normawati dari Balai Bahasa Papua dan Papua Barat berpendapat kegiatan seperti ini sangat penting. Kampanye literasi dianggap sepele oleh masyarakat. Oleh karenanya, para guru yang mengikuti kegiatan diminta untuk tidak mudah terjerumus berita sesat.

“Saya mengapresiasi Jubi yang telah memberikan materi pemahaman/peningkatan kapasitas guru, dan kampanye melawan berita bohong. Setelah mengetahui (materi) harapan kecil kami, (guru-guru) bisa memberikan penyadaran kepada anak-anak murid, agar mereka menggunakan medsos (media sosial) dengan bijak,” ujar Normawari.

Dia mengatakan bahasa Indonesia yang baik dan benar perlu disosialisasikan secara terus-menerus. Dalam kaitannya dengan jurnalistik, meski sesuai ragam jurnalistik, diharapkan tetap mengikuti kaidah bahasa Indonesia.

“Agar kita tidak asal menulis. Saya menyampaikan bahasa jurnalistik dalam penulisan, agar dalam menyusun laporan bisa diaplikasikan dengan baik,” ujar dia.

Salah satu peserta, Feliks Jemahan menilai, kegiatan seperti ini sangat baik. Dengan begitu, publik, terutama siswa/i dapat lebih selektif dan kritis dalam menerima informasi di masyarakat.

Guru bahasa Indonesia di SMA Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Taruna Bakti Jayapura ini melanjutkan materi melawan hoaks sangat baik, dan dapat membantu mereka untuk memilih dan memilah website dan informasinya.

“Saya berharap agar Jubi dan Balai Bahasa menyelenggarakan kegiatan serupa di berbagai kalangan masyarakat dan para pejabat/pegawai, agar iklim demokrasi tetap terjaga,” kata Feliks Jemahan.

Dilansir dari laman Kemenkominfo, pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta orang. Setidaknya terdapat 800 ribu situs yang diindikasi sebagai penyebar informasi palsu.

Dickrilhakim Iriawan, usai membawakan materinya “Melawan Hoaks” menyebutkan hoaks perlu dilawan dengan cerdas.

Hoaks dimaknai sebagai berita bohong atau berita tidak bersumber, tetapi sengaja dijual sebagai kebenaran, sedangkan fake news merupakan berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan masyarakat dan memiliki agenda tertentu.

Dickry mengutip Dosen Psikologi Media Universitas Indonesia, Laras Sekarasih, bahwa orang lebih cenderung percaya hoaks jika informasinya sesuai dengan opini atau sikap yang dimiliki. Misalnya, seseorang setuju terhadap kelompok, produk, atau kebijakan tertentu, dan mudah dipercaya jika itu disebarkan.

“Saat mendapatkan berita, usahakan baca terlebih dahulu sampai selesai, lalu klarifikasi dan konfirmasi kebenarannya,” kata Dickri. (*)

Editor: Timo Marten

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top