Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Totem orang Port Numbay, perubahan makna dan pelestariannya

Ilustrasi bangunan publik di Kota Jayapura dengan gaya khas Port Numbay – Jubi/Timo Marten

Papua No. 1 News Portal | Jubi

“Sesuai Peraturan Daerah Nomor 17 tahun 2011 Tentang Bangunan di Kota Jayapura, bangunan-bangunan di Kota Jayapura harus menggunakan ornamen-ornamen Port Numbay. Dengan demikian, ciri khas budaya atau Port Numbay terus dilestarikan dan dikembangkan oleh generasi mendatang”

Jayapura, Jubi – Pemerhati budaya Papua, Daniel Randongkir, mengatakan banyak motif budaya dan totem orang Papua yang diukir di tembok-tembok yang mengalami perubahan makna. Totem dan ukiran dipakai untuk kepentingan individu, bukan mengangkat kearifan masyarakat yang komunal, melainkan dijadikan kepentingan bisnis.

Menurut dia, pada prinsipnya para pengukir itu mengeskplorasikan daya kreativitasnya berdasarkan imajinasinya. Hal ini baik dan memang motif dari suku-suku tertentu harus dilestarikan, agar selain menjadi ikon untuk kota tersebut, juga untuk melestarikan budaya melalui simbol-simbol tersebut.

“Contoh di Port Numbay, kalau mereka menggunakan binatang itu menggambarkan totem yang ada di laut, terutama di Teluk Yotefa. Dan perlu diketahui bahwa masing-masing muka perahu itu maknanya berbeda-beda, karena itu menimbulkan totem,” kata Daniel Randongkir kepada Jubi, Rabu (13/6/2019).

Loading...
;

“Kalau orang lain yang mengukir itu menimbulkan kesan tersendiri, bahkan bisa jadi bias dalam menafsirkan makna dari kebudayaan itu sendiri,” lanjutnya.

Seiring perubahan dan perkembangan, banyak orang yang menggambar sebebas-bebasnya. Sebab itu hak milik komunal bukan milik personal. Sebenarnya itu tugas Dewan Adat untuk melihat dan memproteksi hal-hal ini. Namun Dewan Adat dinilai diam saja menanggapi perubahan yang terjadi.

“Sebenarnya Dewan Adat harus ada sanksi tersendiri kepada mereka yang mengukir apabila tidak sesuai dengan simbol-simbol yang mereka anut selama ini. Ditambah lagi dengan sementara kaum intelektual yang ada tidak mendukung Dewan Adat untuk melihat hal-hal ini, makanya Dewan Adat juga berjalan pincang,” katanya.

Hal ini, lanjutnya, lebih pada manipulasi dan mengeksploitasi hak komunal milik suku setempat.

“Salah satu contoh yang kita bisa melihatnya ialah Pasar Hamadi. Mereka menjual untuk personal dan mengorbankan masyarakat komunal. Semacam inilah yang tidak dibenarkan,” katanya.

Randongkir mencontohkan selama ini non-OAP membuat patung Asmat, tapi tidak ada Dewan Adat yang menegur oknum-oknum tersebut.

“Tidak ada lembaga dari akademisi untuk melakukan advokasi mengenai kebudayaan kita yang kian hari tergerus karena faktor migrasi yang membludak,” katanya.

Menurutnya, totem yang digambar di tembok-tembok atau dinding itu mempunyai fungsi tersendiri, yakni menggambarkan keindahan dan gambaran ingatan kepada nenek moyang.

“Totem itu juga melambangkan kehadiran roh nenek moyang, sebagai bentuk penghayatan dan sebagai bentuk penghayatan rasa sedih dan bahagia, sebagai suatu lambang kepercayaan dengan motif manusia atau hewan yang unik, tetumbuhan, dan benda benda lain. Kalau hewan, misalnya cenderawasih, ikan kasuari, dan sebagainya,” katanya.

Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano, menegaskan pentingnya ornamen khas Port Numbay di tembok-tembok prkantoran maupun tempat publik.

“Saya berharap agar setiap fasilitas sarana prasarana yang dibangun harus dimasukkan ornamen khas Papua, khususnya Port Numbay, untuk menghiasi bangunan yang kosong,” katanya.

Mano mengatakan, sesuai peraturan daerah, bangunan-bangunan di Kota Jayapura harus menggunakan ornamen-ornamen Port Numbay. Dengan demikian, ciri khas budaya atau Port Numbay terus dilestarikan dan dikembangkan oleh generasi mendatang.

“Saya harap agar setiap bangunan yang dibangun tetap memperlihatkan kearifan lokal supaya kearifan lokal masyarakat Port Numbay terus terjaga dan dilestarikan,” kata wali kota asal Kampung Enggros-Tobati ini.

Wali kota dua perode ini juga meminta kepada dinas terkait, selain memperhatikan ukiran-ukiran seni di tembok tembok, merea harus menyiapkan souvenir khas Port Numbay, agar dapat menjadi kenang-kenangan saat ada even besar.

“Saya berharap agar kreativitas ini bisa merangkul masyarakat asli Port Numbay dalam membuat souvenir, kerajinan tangan, berupa ukiran, lukisan, baju batik atau yang berciri khas Port Numbay, sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 17 tahun 2011 Tentang Bangunan di Kota Jayapura terkait ornamen Port Numbay,” katanya.

Sementara itu, pengamat budaya Port Numbay, Rudi Mebri, mengatakan upaya mematenkan motif Port Numbay adalah langkah maju dari Pemerintah Kota Jayapura untuk memproteksi kekhasan budaya dan adat Port Numbay.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada pemerintah yang menunjukkan niat baik untuk mengangkat kearifan lokal, selain perda pemerintah juga mengakomodir dalam visi mengenai proteksi kearifan lokal tersebut,” katanya.

Mebri mengatakan untuk menyelamatkan budaya dan adat Port Numbay harus diputuskan di para-para adat, karena bagi masyarakat adat, motif, ukiran, lagu ataupun nyanyian itu mempunyai filosofi tersendiri. Tiap kampung juga mempunyai khazanah tersendiri, sehingga wajib saling menghormatinya.

“Kalau tidak tentunya akan menjadi permasalahan tersendiri, apalagi di luar. Itulah kebesaran dan teritorialnya para-para adat. Kebesaran dari para ondoafi, kepala suku, untuk membahas mengenai kearifan lokal di tengah moderenisme ini,” kata Mebri. (*

Editor: Timo Marten

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top