HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Tradisi makan pinang di Papua

Ilustrasi buah pinang dan sirih yang dijual di Jayapura – Jubi/Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Hari Suroto

Slogan lima sehat empat sempurna itu sudah menjadi hal yang biasa, tetapi khusus di Papua lima sehat belum sempurna tanpa makan pinang. Mengunyah pinang sudah menjadi rutinitas bagi siapa saja yang menggemari buah ini, dan di mana saja di Papua dapat dijumpai penjual pinang. Baik itu pinang tumpuk maupun pinang yang dijual eceran atau yang populer disebut sebagai pinang ojek.

Di dunia ini hanya bandara di Papua dan Papua Nugini saja yang terdapat stiker buanglah ludah pinang pada tempatnya.

Buah pinang paling murah hanya di Pasar Youtefa, Sentani, Nabire, Sorong, dan daerah pesisir lainnya.

Loading...
;

Memang pohon pinang hanya bisa tumbuh di dataran rendah saja. Tetapi yang jadi pertanyaan, kenapa di Kota Wamena, Enarotali, Moanemani, serta beberapa daerah pegunungan Papua, sebagian penduduknya juga makan pinang? Sedangkan pohon pinang tidak dapat tumbuh di daerah tersebut.

Jawabannya adalah buah ini dibawa ke Wamena berkarung-karung dengan kargo pesawat udara, sedangkan di wilayah pegunungan lainnya, pinang dibawa dengan transportasi darat dari Nabire.

Apakah suku-suku di pegunungan dalam budayanya mengkonsumsi pinang?

Ternyata bukti arkeologi menunjukkan bahwa pada masa prasejarah, hanya penduduk di pesisir saja yang makan buah ini sejak 3000 tahun yang lalu.

Buah ini diperkenalkan oleh manusia Austronesia yang bermigrasi ke pesisir Papua.

Budaya makan pinang di pegunungan Papua, pertama kali diperkenalkan oleh pegawai, tentara atau polisi yang berasal dari pesisir Papua yang bertugas di pegunungan.

Saat pulang kampung, mereka membawa banyak buah pinang ke tempatnya bertugas.

Selain itu generasi terpelajar pegunungan yang sekolah atau kuliah di Kota Jayapura, mulai terbiasa dengan budaya baru bagi mereka yaitu makan pinang. Begitu mereka selesai sekolah dan kuliah, ketika kembali ke daerah asal, membawa budaya makan pinang ini.

Dalam perkembangannya kemudian, buah pinang menjadi komoditas ekonomi baru di wilayah pegunungan sehingga berkarung-karung pinang kemudian dikirim dari Sentani ke Wamena.

Terdapat dua jenis pinang yang dikirim ke pegunungan yaitu pinang buah dan biji pinang kering.

Pelengkap makan pinang adalah kapur. Kapur ini didapatkan dari membakar cangkang kerang laut.

Bagi masyarakat Sentani, kapur didapatkan dengan membakar cangkang siput danau.

Tetapi kapur dari kerang laut warnanya lebih putih daripada kapur siput danau. Kapur siput danau berwarna putih keabu-abuan.

Sangat disayangkan bahwa dalam mendapatkan cangkang kerang laut, sebagian pengrajin kapur ini mencari di situs arkeologi. Mereka mengumpulkan cangkang-cangkang kerang dari Situs Srobu di Abepantai.

Cangkang-cangkang kerang ini merupakan sisa-sisa makanan manusia prasejarah.

Namun dari sekian daerah pegunungan yang masyarakatnya berusaha bertahan dengan budayanya adalah suku Mee di Kabupaten Dogiyai.

Mereka telah sepakat untuk tidak mengkonsumsi atau menanam pohon pinang khususnya di wilayah Dogiyai, bagi mereka, makan pinang adalah budaya masyarakat pesisir dan nenek moyang mereka tidak mengenal itu.

Pinang sudah menjadi kebutuhan pokok di Papua, mampu menggerakkan perekonomian masyarakat kecil.

Dari hasil jualan pinang inilah banyak orang tua yang mampu menyekolahkan anak-anak hingga perguruan tinggi.

Pihak terkait terutama dinas pertanian atau perkebunan perlu memberi dukungan kepada petani pinang, baik itu pelatihan maupun dalam hal permodalan.

Pada umumnya pohon pinang ditanam di pekarangan rumah atau di kebun yang tidak begitu luas.

Selain dikonsumsi langsung, buah pinang perlu dikreasikan ke produk baru seperti jus pinang atau sirup pinang. Komoditas pinang juga berpotensi dapat diekspor. (*)

Penulis adalah peneliti di Balai Arkeologi Papua

Editor: Timo Marthen

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top