Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Tumpahan limbah nikel di laut PNG khawatirkan warga kota Jayapura

Air laut di Madang, PNG berwarna merah. Diduga karena tercemar limbah dari perusahaan nikel milik Cina – IST

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Gubernur Madang, Papua New Guinea (PNG) Peter Yama meminta Menteri Lingkungan dan Konservasi Wera Mori untuk meminta maaf kepada masyarakat Madang atas pernyataannya bahwa tumpahan limbah di Basamuk tidak berbahaya.

Yama sebelumnya menyebutkan tumpahan limbah di Tambang Nikel Ramu baru-baru ini dan laporan yang diterbitkan oleh Dr Alex Mojon telah menyebabkan ikan mati di sekitar laut Madang. Dia mengatakan tampaknya Mori sama sekali tidak diberitahu tentang masalah lingkungan yang diakibatkan oleh tambang Nikel Ramu yang dimiliki oleh perusahaan Cina.

“Menteri mungkin telah ditutupi oleh kepentingannya sendiri atau kepentingan orang lain,” kata Yama.

Lanjut Yama, laporan Dr Mojon, seperti yang ada sekarang, adalah konklusif, artinya mencakup area di dalam dan di sekitar tambang Nikel Ramu dan untuk radius 10 km dari lokasi proyek.

Loading...
;

Investigasi dilakukan secara menyeluruh, sampel dikumpulkan dengan benar dan laboratorium yang kredibel di luar negeri menganalisis sampel dan menyimpulkan hasilnya.

Ia menegaskan bahwa kehidupan masyarakat Madang adalah yang terpenting dan jika Mori ingin bermain politik dengan CEPA, MRA dan MCC, dia, sebagai Gubernur Provinsi Madang, tidak akan membiarkan itu terjadi.

Pemerintah provinsi Madang, lanjut Yama, bersedia bekerja sama dengan CEPA, MRA, NFA, Departemen Kesehatan dan konsultan independen lainnya dan MCC untuk memastikan bahwa masalah lingkungan yang mempengaruhi masyarakat Madang diberi prioritas utama oleh pemerintah Marape.

Sementara Mori mengatakan setiap keputusan yang berkaitan dengan insiden di tambang Nikel Ramu harus didasarkan pada fakta dan bukti melalui penyelidikan ilmiah. Meski mengatakan penelitian yang dilakukan menegaskan tidak adanya polusi di laut, namun Mori telah melihat laporan ikan dan hiu mati sekitar 50 kilometer dari lokasi tumpahan di pantai Madang.

“Di sisi lain, kami memiliki laporan penyelidikan yang disetujui oleh pemerintah provinsi Madang yang dipimpin oleh ilmuwan Swiss Dr Alex Mojon yang mengklaim menemukan jejak logam berat pada ikan dan sampel air.

Namun Mori berpendapat Ikan yang mati berjarak sekitar 50 kilometer dari lokasi tumpahan.

“Mengapa demikian? Tanpa kematian massal hewan laut di dalam area tumpahan dan 10 hingga 20 kilometer berikutnya?” ujar Mori.

Tumpahan limbah ini tak hanya mengkhawatirkan penduduk PNG, namun juga penduduk di pesisir utara Provinsi Papua, Indonesia.

“Orang-orang mulai kirim pesan berantai supaya tidak mengkonsumsi ikan laut di Kota Jayapura karena informasi tentang limbah di Madang, PNG,” kata Simson Rumainum, seorang warga Kota Jayapura. (*)

Editor : Victor Mambor

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top