Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Tuntutan keluarga Yamban terhadap Bank Papua masih buntu

aksi keluarga yamban di pintu masuk Bank Papua. Jubi/Titus Ruban

Nabire, Jubi – Aksi pemalangan dan menduduki Kantor Cabang Bank Papua di Nabire kembali berlangsung pada Jumat (19/07/2019). Keluarga Robert Yamban yang menuntut pembayaran tanah. Negosiasi sebelumnya masih menemui jalan buntu.

Pertemuan yang dikawal ketat oleh aparat keamanan Polres Nabire ini, hasilnya pun masih sama dengan sebelumnya. Pihak Bank maupun Pemkab Nabire belum bisa memenuhi permintaan keluarga Robert Yamban .

Masing masing pihak pun tetap bertahan dengan argumennya.

Pihak Bank Papua dalam pertemuan kali ini memberikan sejumlah uang sebanyak Rp100 juta rupiah kepada pihak keluarga, namun tetap ditolak. Keluarga masih bersikeras dengan tuntutan mereka yakni Rp15 Miliar .

Pihak keluarga, Sem Yam menuturkan masih akan tetap menuntut haknya hingga kapan pun dan dengan cara apapun dan tidak akan mundur. Selain itu, pihaknya menginginkan pelaku yang saat itu datang meminta tempat kepadanya untuk hadir dalam pertemuan. Sebab saat itu yang datang bukan Pemkab Nabire, tetapi pihak Bank.

Loading...
;

“Kami tetap tuntut dan tidak akan mundur. kami mau hadirkan Bupati Nabire, dan orang orang bank yang saat itu datang mengemis tanah ini di hadapan saya. mereka masih hidup dan kenapa tidak hadir,” tutur Sem Yamban.

Lanjut Sem, Pemkab Nabire yang mengklaim tanah tersebut adalah miliknya, juga tidak memperlihatkan surat dan bukti kepemilikan. Lalu, soal tukar tambah juga bukan usulan keluarga dan tidak pernah disampaikan sebelumnya.

“Lucu saja dengan Pemkab Nabire ytang ikut mengklaim dan menukar tanah ini dengan bank,” lanjut dia.

Sem, mengisahkan, saat itu tidak ada pihak Pemkab datang menemui keluarga untuk meminta tanah guna pembangunan kantor cabang Bank Papua. Yang datang adalah pihak bank. Sehingga tidak ada urusan dengan Pemkab.

“Namun karena pemkab juga terlibat maka harus dua pihak ini (bank dan pemkab) berkewajiban untuk menyelesaikan persoalan ini,” kisahnya.

Perwakilan Bank Papua divisi hukum, Rahman mengatakan persoalan tuntutan pembayaran dari keluarga Yamban, sudah disampaikan kepada direksi dan pimpinan pusat Bank Papua.

Hanya saja kata dia, keputusan direksi dari kantor pusat menyatakan bahwa tidak akan melakukan pembayaran atas ganti rugi tanah tersebut. Jika pihak keluarga belum puas dengan keputusan ini, dipersilahkan untuk menempuh jalur hukum.

“Kalau nantinya melalui jalur hukum, pengadilan memutuskan kepada bank untuk membayar, maka pembayaran sesuai keputusan hukum,” katanya.

Sementara itu, kepala Bank Papua cabang Nabire, Andreas Baunik menambahkan pihaknya tidak bisa berbuat banyak sebab masih ada tingkat ada pimpinan di kantor pusat.

Pihaknya hanya memperjuangkan kemampuan kantor cabang untuk memberikan ganti rugi sebesar Rp. 100.000 (seratus juta rupiah) kepada pihak keluarga, yakni mama Yamban.

“Kami tidak bisa buat banyak sebab hanya bawahan. Maka hanya sedikit dari cabang untuk mama Yamban,” tambahnya.

Aktivitas layanan lumpuh

Tuntutan dan proses negosiasi pihak keluarga Yamban dengan pihak bank Papua sudah beberapa kali terjadi. Tiap kali pertemuan diwarnai dengan aksi kecil seperti menutup pintu pagar masuk bank. Ini cukup mengganggu pelayanan bank.

Tiap pertemuan, pintu selalu di tutup akibatnya nasabah tidak bisa masuk bahkan harus menunggu sampai dibukakan pintu.

Loisa Rumasep, salah satu nasabah mengatakan bahwa sangat terganggu akibat hal itu. Bahkan sempat beberapa kali dia tidak bisa masuk akibat pintu ditutup.

“Sebagai nasabah di sini, saya sangat terganggu. Harus bolak balik karena beberapa kali datang pintu di tutup dan tidak bisa masuk,” kesalnya.

Dia berharap persoalan itu segera mendapatkan jalan keluar.(*)

Editor: Syam Terrajana

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top