Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Unjukrasa menolak rasisme, masyarakat Mee tuntut Hak Penentuan Nasib Sendiri

Foto ilustrasi – pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Ribuan warga yang tergabung Front Masyarakat Meepago Papua menggelar unjukrasa serentak di tiga kabupaten Wilayah Adat Meepago, yaitu Paniai, Deiyai, dan Dogiyai, Papua, Senin (26/8/2019). Dalam aksi di ketiga kabupaten itu, para warga mengecam persekusi dan rasisme yang dialami para mahasiswa Papua di Jawa Timur.

Sejak Senin pagi, para pengunjukrasa di Kabupaten Paniai berkumpul di lapangan Enarotali, ibukota Kabupaten Paniai. Massa kemudian berjalan kaki menuju Kantor Bupati Paniai yang berada di Madi.

Di Kantor Bupati, sejumlah pemimpin unjukrasa berorasi, mengecam tindakan persekusi dan rasisme terhadap para mahasiswa Papua dalam pengepungan Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya pada 16 dan 17 Agustus 2019 lalu. Mereka juga mengecam intimidasi atau kekerasan yang dialami mahasiswa Papua di Malang dan Semarang.

“Kami berunjukrasa menolak rasisme. Kami juga menuntut diberi Hak Penentuan Nasib Sendiri melalui mekanisme referendum. Bagi kami, Indonesia adalah penjajah dan penindas orang asli Papua,” kata penanggujawab aksi di Paniai, Frans Nawipa saat dihubungi melalui sambungan telepon di Enarotali pada Senin.

Loading...
;

Nawipa menegaskan, tindakan persekusi dan rasisme terhadap para mahasiswa Papua merupakan penghinaan terhadap martabat orang Papua. “Kami di Paniai menolak segala macam bentuk rasisme dan intimidasi bagi masyarakat Papua. Itu satu bentuk penghinaan terhadap martabat orang asli Papua yang mendiami Tanah Papua,” kata Nawipa.

Koordinator aksi Front Masyarakat Meepago Papua di Kabupaten Deiyai, Stefanus Pigai menyatakan ribuan warga Deiyai turun ke jalan dalam unjukrasa menolak tindakan rasisme dan persekusi terhadap para mahasiswa Papua. Pigai menuturkan, para peserta aksi sejak Senin pagi berkumpul di Lapangan Waghete, lalu berjalan kaki ke Kantor Bupati Deiyai.

Di Kantor Bupati Deiyai, sejumlah pemimpin unjukrasa, berorasi mengecam pengepungan Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya pada 16 dan 17 Agustus 2019 lalu. Massa juga mengecam makian rasisme yang terjadi di sana.

Pigai menyatakan rakyat di Deiyai menuntut digelarnya referendum bagi rakyat Papua, demi mengakhiri praktik diskriminasi dan rasisme terhadap orang Papua. “Ribuan rakyat hadir menyerukan kemerdekaan bagi bangsa Papua melalui mekanisme referendum, karena perlakuan masyarakat Surabaya terhadap mahasiswa [Papua]. Perlakuan itu adalah bentuk penolakan masyarakat Indonesia terhadap kami, kami yang mereka anggap monyet,” kata Pigai.

Stefanus Pigai mengatakan makian rasisme dengan menyebut orang Papua binatang bukanlah hal baru, dan telah kerap terjadi. “Kalau mereka tidak anggap kami menusia, seharusnya mereka memberikan Hak Penentuan Nasib Sendiri bagi bangsa Papua,” kata Pigai.

Pembatasan akses internet yang berlangsung di Papua, khususunya di Jayapura, membuat repoter Jubi kesulitan untuk mencari dan memperoleh foto unjukrasa yang terjadi di Enarotali dan Waghete itu. Jubi juga menerima informasi bahwa aksi yang sama juga terjadi di Kabupaten Dogiyai, namun belum mendapatkan konfirmasi terkait unjukrasa masyarakat di Dogiyai itu.

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top