HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Upaya perangi kusta di Papua terhambat oleh reaksi obat rekomendasi WHO

Ilustrasi penyakit kusta – IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Penyakit kusta sebagian besar lenyap di Indonesia dua dekade lalu, tetapi karena penyakit ini masih lazim ditemukan di beberapa daerah yang terpencil, negara kepulauan menempati urutan ketiga dalam hal penyakit ini setelah India dan Brasil.

Di kampung-kampung terpencil di provinsi Papua dan Papua Barat, upaya pemerintah Indonesia untuk memerangi penyakit ini terhambat oleh reaksi merugikan yang mengancam jiwa dari obat anti-kusta yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia bernama Dapsone. Reaksi ini menimbulkan risiko sehingga beberapa dokter telah berhenti memberikan obat ini kepada penderita kusta.

Asia Nikei melaporkan perusahaan pengujian genetik Nalagenetics, yang didirikan pada 2016 oleh tim ilmuwan dari Indonesia dan Singapura melihat peran penting dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat tersebut. Perusahaan  ini bekerja sama dengan Genome Institute of Singapore untuk mengembangkan pengujian farmakogenomik – mencari tahu bagaimana gen seseorang memengaruhi respons tubuh mereka terhadap obat-obatan – dengan tujuan mengurangi reaksi obat yang merugikan dan meningkatkan kemanjuran obat. Ini dilakukan melalui penggunaan pereaksi dan perangkat lunak analitis yang dikembangkan tim di bawah kolaborasi kekayaan intelektual.

Tahun lalu, Nalagenetics memenangkan kontrak besar pertama dari kementerian kesehatan Indonesia untuk mendistribusikan 1.000 alat tes genetik di lima kampung di Papua dan Papua Barat. Ditemukan bahwa 20% pasien kusta di sana membawa gen yang bertanggung jawab atas reaksi fatal terhadap Dapsone. Penemuan ini telah membantu dokter memutuskan pasien mana yang dapat diobati dengan antibiotik dengan aman.

Loading...
;

“Apa yang kami katakan kepada dokter adalah, ‘Jika anda menguji pasien ini terlebih dahulu dan anda tahu obat mana yang cocok untuk siapa, anda benar-benar dapat memberikan obat yang tepat kepada orang yang tepat,'” kata pendiri Nalagenetics, Levana Sani, di ruang rekan kerjanya di Jakarta. Perusahaan yang berbasis di Singapura melihat Indonesia sebagai target pasar utama.

“Saya pikir ide itu sangat cocok dengan pemerintah [Indonesia] karena pemerintah peduli dengan pasien kusta. Mereka ingin menyelesaikan masalah ini,” tambahnya.

Nalagenetics menerima $ 1 juta November lalu dari dana East Ventures yang fokus di Asia Tenggara dan Jepang serta Intudo Ventures yang berfokus pada Indonesia, dan beberapa investor tanpa nama.

Kusta di Indonesia
Penyebab penyakit kusta adalah bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri tersebut ditularkan melalui kontak kulit yang lama dan erat dengan penderita.

Anggapan lain menyebutkan bahwa penyakit ini juga bisa ditularkan melalui inhalasi alias menghirup udara, karena bakteri penyebab penyakit kusta dapat hidup beberapa hari dalam bentuk droplet(butiran air) di udara.

Bakteri penyebab penyakit kusta juga bisa ditularkan melalui kontak langsung dengan binatang tertentu seperti armadilo. Penyakit ini memerlukan waktu inkubasi yang cukup lama, antara 40 hari sampai 40 tahun, rata-rata membutuhkan 3-5 tahun setelah tertular sampai timbulnya gejala.

Sekitar 95 persen orang kebal terhadap bakteri penyebab penyakit kusta, dan hanya sekitar 5 persen yang dapat tertular bakteri tersebut. Dari 5 persen orang yang tertular bakteri penyebab penyakit kusta, sekitar 70 persennya sembuh sendiri, dan hanya 30 persen yang sakit kusta. Artinya, dari 100 orang yang terinfeksi bakteri ini, hanya 2 orang yang akan jatuh sakit.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes Wiendra Waworuntu mengatakan, angka prevalensi kusta di Indonesia yaitu 0,696 per 10 ribu penduduk dan total kasus terdaftar per 31 Desember 2017 yaitu 18.242.

“Sementara penemuan angka kasus baru kusta di Indonesia yaitu 6,07 per 100 ribu penduduk dengan total kasus baru 15.910 selama tahun 2017, kemudian di 2018 juga sekitar 15 ribu kasus baru. Jadi setiap tahun angkanya sekitar itu,” katanya saat konferensi pers media briefing dalam rangka peringatan hari kusta sedunia 2019, di Jakarta, Kamis (7/2).

Tercatat kasus kusta masih tersebar di 7.548 desa/kelurahan/kampung yang ada di 341 kabupaten/kota di Indonesia. Kasus kusta, dia menambahkan, terbanyak terjadi di wilayah Indonesia timur seperti Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara. Tercatat provinsi-provinsi Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat belum eliminasi kasus penyakit ini.

Ia menyebut akses yang sulit dan petugas kesehatan yang terbatas menyebabkan penyakit yang diakibatkan oleh kuman Mycobacterium leprae itu masih tinggi di wilayah-wilayah itu.

Untuk mempercepat eliminasi kasus ini, dia menambahkan, Kemenkes fokus pada daerah tinggi penyebaran kasus kusta yaitu di Papua dan Papua Barat. Ia menyebut Kemenkes melakukan penguatan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dan melatih sumber daya manusia dan terus mencari penderitanya. (*)

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Ko ikut kompetisi Vlog, Foto dan Cerita Rakyat HUT Jubi boleh....