Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Vaksin polio menjaga kesehatan anak

Rapat Koordinasi Lintas Sektoral Sosialisasi Rencana Pelaksanaan Sub Pekan Imunisasi Nasional Provinsi Papua, Jayapura, 11 Maret 2019 – Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

BETAPA pentingnya bagi orangtua untuk menjaga kesehatan anak, mulai dari kandungan hingga lahir. Tujuannya agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan normal dan sehat.

Salah satu menjaga kesehatan anak adalah dengan memberikan imunisasi agar terhindar dari penyakit seperti polio. Sebab polio tak bisa disembuhkan. Satu-satunya langkah pencegahan adalah dengan pemberian vaksin polio.

“Imunisasi polio sangat berguna pada anak-anak usia 1 tahun hingga 15 tahun agar menjadi kuat dan sehat dan terhindar dari penyalit polio,” ujar Togu Sihombing, kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi Papua di Jayapura, Selasa, 12 Maret 2019.

Polio yang juga disebut poliomyelitis, katanya, adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dan sangat menular. Polio menyerang sistem syaraf dan dapat menyebabkan kelumpuhan permanen dan menular melalui kontak antar manusia, dari orang ke orang, dan dapat menyebar dengan cepat di masyarakat.

Akibat dari virus polio, yaitu tanpa gejala 90-95 persen, gejala ringan yaitu panas, sakit kepala, lemah, dan diare 4-8 persen, poliomielitis dengan kelumpuhan 1-2 persen.

“Jika sudah terjadi kelumpuhan tidak dapat disembuhkan namun tetap dilakukan rehabilitasi medik atau fisioterapi untuk mengurangi kecacatan yang lebih berat,” ujarnya.

Loading...
;

Dikatakan Sihombing, sebagian besar orang yang terinfeksi, yaitu 90 persen, tidak menampakkan gejala sama sekali atau hanya gejala ringan, namun tetap jadi sumber penularan terutama kepada anak yang tidak mendapat imunisasi.

Karena itu, anak-anak harus diberikan empat dosis vaksin polio tidak aktif, yaitu pada saat anak berusia dua bulan, empat bulan, antara 6-18 bulan, dan terakhir adalah pada usia antara 4-6 bulan.

“Satu dari 200 orang yang terinfeksi polio mengalami kelumpuhan permanen dan dapat menimbulkan kematian, adanya satu kasus polio dapat menimbulkan bahaya bagi seluruh anak di suatu negara, karena itu, eradikasi polio harus dilakukan dan dipertahankan,” katanya.

Berdasarkan data situari global polio, lanjut Sihombing, pada 1988 ditemukan sebanyak 350.000 kasus, 125 negara endemis. Pada 2015 ditemukan sebanyak 74 kasus polio liar tipe I dilaporkan (data per 11 Maret 2016), 2 negara endemis, yaitu Pakistan dan Afganistan. Sedangkan di Papua sejak 2015 hingga 2018 tidak ditemukan adanya kasus polio.

“Virus polio ditularkan melalui fecal-oral, yaitu transmisi udara melalui faeces atau tinja yang mengandung virus polio, lalu virus masuk ke dalam mulut anak lain dan dapat juga ditularkan melalui air liur atau droplet ketika seseorang bersin atau batuk,” katanya.

Untuk mendiagnosa orang yang sudah terkena polio, kata Sihombing, harus dilakukan diagnosa polio melalui pemeriksaan fisik lumpuh layu akut, biasanya asimetris. Penunjang, yaitu feaces atau tinja sangat penting, 2 kali pengambilan selang 24 jam dalam 14 hari setelah lumpuh.

“Sampelnya dikirim ke laboratorium di BLK Surabaya, Jakarta, Bandung termaksud pengambilan sampel darah dan cairan serebrospinal,” ujarnya.

Ia memperingatkan tidak semua lumpuh layu karena polio. Bila ada lumpuh layu mendadak di bawah usia 15 tahun, bukan karena rudapaksa atau kecelakaan, segera laporkan untuk dipastikan polio atau bukan dengan pemeriksaan virus dalam tinja.

Menurut Sihombing, Dinkes Papua sudah mengadakan rapat koordinasi dengan lintas sektor, di antaranya wartawan media cetak dan elektronik (online dan televisi), mahasiswa, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh perempuan sebagai salah satu upaya Dinas Kesehatan Papua untuk menyinkronisasi pengembangan layanan kesehatan khususnya pencegahan penyakit polio.

Pertemuan lintas sektor tersebut membahas terkait rencana pelaksanaan Sub Pekan Imunisasi Nasional di Papua pada 18 Maret dan April 2019. targetnya 95 persen pelayanan polio dari total jumlah sasaran 1,8 juta orang lebih anak usia  0-15 di 29 kabupaten dan kota di Papua.

“Kalau tidak disosialisasikan akan sangat susah penerapannya,” katanya.

Karena itu keberadaan lintas sektoral sangat diperlukan dalam mendekatkan upaya promotif dan preventif kepada masyarakat, terutama memberikan pemahaman pentingnya pemberian vaksin polio kepada anak.

“Pemberian vaksin polio gratis karena disiapkan pemerintah,” ujarnya.

Dokter dari Unicef Papua, dr. Ratih, menuturkan pemberian vaksin polio perlu disosialisasikan kepada masyarakat terhadap pentingnya imunisasi rutin lengkap sehingga mau dan mampu mendatangi tempat pelayanan imunisasi.

“Pengobatan untuk penyakit polio dapat ditempuh melalui terapi kausal karena tidak ada obat untuk virus penyebab polio,” katanya.

Menurut Ratih, vaksinasi atau imunisasi diperlukan untuk mencegah berbagai enyakit menular dengan membangun kekebalan tubuh. Vaksin ada dua jenis, yaitu vaksin suntik dan dan vaksin berupa cairan untuk diteteskan langsung ke dalam mulut (vaksin oral).

Peserta rapat koordinasi dari perwakilan mahasiswa penghuni asrama, Jimmy, minta Dinkes Papua melakukan sosialisasi lagi di asrama kabupaten supaya membuka lagi wawasan dan pandangan tentang polio agar bisa memberikan informasi yang baik.

“Karena kalau kami sudah sosialisasi, mahasiswa lain di kabupaten belum tentu paham sehingga terjadi kesalahpahaman, jadi, sangat penting mensosialisasikan juga kepada mahasiswa di kabupaten,” katanya.

Menurut Jimmy, masih ada segelintir masyarakat yang enggan memberikan imunisasi polio kepada anaknya karena kurangnya pengetahuan tentang vaksin polio. (*)

Editor : Syofiardi

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top