Wakil Bupati Deiyai : Saya belum dengar ada laporan perkosaan dari masyarakat

Wakil Bupati Deiyai : Saya belum dengar ada laporan perkosaan dari masyarakat

Pemerintah Kabupaten Deiyai, diwakili Wakil Bupati, Hengky Pigai, turun mengambil laporan dari masyarakat Rabu pagi 22/5/2019, atas peristiwa penembakan di Wagete Dua, Selasa malam (21/5/2019) – Jubi/Dok pribadi Wabup Deiyai.

Nabire, Jubi – Wakil Bupati Deiyai, Hengky Pigai, turun langsung kelokasi penembakan Melianus Dogopia dan Yulianus Mote untukmengumpulkan data. Dirinya tidak mendapat laporan dari masyarakatterkait dugaan perkosaan yang terjadi atas 3 orang korban saat terjadinya pembakaran, pasca penembakan.

Wakil Bupati termuda se-Papua itu menjelaskan temuan-temuan lapanganyang didapatkannya, mewakili pimpinan daerah Deiyai, seputar peristiwa penembakan yang menewaskan Yulianus Mote dan pembakaran di Deiyai pekan lalu, Selasa (21/5/2019). Dia memaparkan berbagai hal, mulai dari pemicu sosial peristiwa penembakan ini, penanganan aparat keamanan yang berlebihan, tidak adanya laporan perkosaan dari masyarakat, hingga tuntutan pihak keluarga Yulianus Mote dan upaya Pemkab mencegah berulangnya peristiwa serupa.

“Soal berita (dugaan) pemerkosaan ini, saya sebagai kepala daerah langsung turun tanggal 22 pagi. Saya ambil data. Lalu masyarakat jelaskan seputar peristiwa penembakan. Terus terang waktu saya turun itu saya belum dengar ada laporan soal perkosaan,” ungkap Hengky Pigai melalui sambungan telepon dari Waghete, Kabupaten Deiyai, Kamis pagi itu (30/5/2019).

Pigai lalu menjelaskan pertama kali pihaknya mendengar ada peristiwa perkosaan justru dari aparat keamanan, saat pertemuan koordinasi Rabu sore (22/5/2019).

“Saya kagetnya itu ketika pihak keamanan yang menyampaikan ada pemerkosaan lagi. Waktu itu, sore tanggal 22 kami melakukan pertemuan dengan pihak keamanan dan hal itu disampaikan,” ujarnya.

Wakil Bupati berpandangan jalan terbaik untuk meluruskan dugaan perkosaan yang telah menjadi isu meluas ini adalah melalui bukti hasil visum dokter.

“Kami berpikir hal ini hanya bisa dibuktikan dengan barang bukti, apalagi dikatakan terjadi pada anak kecil dan orang dewasa. Saya rasa kita bisa memanggil pihak terkait dalam hal ini dokter untuk mendapatkan hasil visum untuk pembuktian. Dari situlah nanti kita baru bisa pastikan benar- benar terjadi pemerkosaan atau tidak,” lanjutPigai.

Dirinya mengakui tidak sempat bertemu dugaan korban perkosaan, tapi berjanji akan terus menelusuri laporan ini.

“Kami sebagai pimpinan daerah tidak mengetahui kejadian ini. Kami memang tidak sempat bertemu dugaan korban. Tapi kami sedang telusuri, pembuktiannya seperti apa. Kalau benar ya benar. Kami akan menanyakan langsung hasil visum ke pihak keamanan dan dokter,” tegasnya.

Sementara menurut Kepala Kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Perwakilan Papua, Fritz Ramandey, hasil investigasi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (HAM) Perwakilan Papua menunjukkan dugaan pemerkosaan terhadap tiga orang wanita oleh sekelompok orang ketika peristiwa pembakaran serta kasus penembakan yang menewaskan Yulianus Mote dan melukai Melianus Dogopia terjadi dalam satu rangkaian peristiwa pada 21 Mei 2019 lalu.

Hasil investigasi Komnas HAM Perwakilan Papua menemukan tiga orangkorban dugaan pemerkosaan, yakni dua ibu rumah tangga dan seorang anak berusia 10 tahun.

“Dari keterangan korban, terduga pelaku berjumlah belasan orang. Korban mengenali wajah beberapa terduga pelaku,” ujarRamandey, Selasa (28/5/2019).

Penanganan berlebihan terhadap orang mabuk.

Hengky Pigai menekankan di awal pembicaraannya bahwa penembakan bisa terjadi karena dipicu penyakit sosial yaitu minuman beralkohol (minol). Pemalangan oleh orang mabuk semacam yang dilakukan Melianus Dogopia itu tidak hanya terjadi di Deiyai, Waghete, tetapi juga biasa terjadi di Dogiyai dan Paniai.

“Anak-anak biasa mabuk ini lakukan pemalangan untuk minta uang rokok. Dogopia meminta ke supir yang dipalang itu 10 ribu, uang rokok. Karenatidak dikasih, dia rusak mobil. Perlu dicatat kondisi Dogopia ini kan tidak normal, dia mabuk,” kata Pigai.

Yang disesalkan Pigai justru pengejaran aparat keamanan (Sabara)hingga ke rumahnya dan kembali dengan senjata. Dogopia yang sedangmabuk tentu tak pikir panjang untuk melawan.

“Dalam keadaan tidak normal ini, keluarlah dia dan lawan polisi. Laluterjadilah penembakan terhadap Dogopia di Waghete Dua. Disini kami perlu ingatkan lagi Dogopia itu dalam keadaan tidak normal. Lalu pertanyaannya kenapa langsung terjadi penembakan? Kenapa keamanan tidak langsung tangkap tangan? Itu yang menjadi persoalan,” ungkap Pigai sesuai laporan keluarga Melianus Dogopia yang ia kunjungi.

Penembakan inilah yang menjadi pemicu bergeraknya sebagian masyarakathingga mengakibatkan pembakaran Polsek Tigi dan dua unit kios di Waghete Dua. Hal itu pula yang memicu kedatangan rombongan Yulianus Mote yang hanya ingin tahu dan akhirnya tertembak mati di Waghete.

“Yulianus Mote ini sandar di depan kios. Lalu beberapa menit kemudianitu sudah terjadi penembakan oleh kepolisian di Waghete Idege. Lalu langsung Mote jatuh mati di tempat,” ungkap Pigai dengan nada penyesalan.

Tuntutan keluarga korban dan Perda Miras

Pada hari Kamis (23/5/2019), Wakil Bupati bersama Bupati Deiyai dan Kepolisian mengunjungi rumah duka Yulianus Mote. Menurut Pigai ada dua tuntutan utama keluarga korban penembakan ini.

“Ada dua hal utama yang disampaikan pihak keluarga korban. Pertama, Yulianus Mote ini dimakamkan di depan Polsek (saat ini statusnya sudah dimakamkan di samping Polsek–ed). Permintaan kedua, agar pihak terkait yang melakukan penembakan diproses hukum sampai tuntas. Mereka sangat berharap proses hukum betul terjadi. Kalau proses hukum tidak terjadi, nanti bagaimana kita akan ikuti,” kata Pigai.

Dirinya sangat menyesalkan kematian Mote yang masih usia sekolah,

“Setelah peristiwa Oneibo, penembakan Douw, kini kami harus kehilangananak muda lagi,” katanya.

Setelah peristiwa ini, Pigai juga menambahkan pihak Pemkab akan segera mengefektifkan Perda Miras, terlebih kepada para pedagang miras agar berhenti berjualan. Dia juga mengimbau agar pemangku kepentingan menjaga keamanan dan menahan diri.

“Kami minta kalau ada masalah-masalah seperti ini pihak keamanan tidak boleh langsung keluarkan peluru tajam,” pintanya. (*)

 

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)