Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Wakil Ketua DPRD Deiyai: Dogopia tidak pernah merusak mobil polisi

Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Deyai Petrus Badokapa. – Jubi/Hengky Yeimo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi –  Wakil Ketua II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Deiyai, Petrus Badokapa meminta Kepolisian Daerah Papua menyampaikan kronologi peristiwa penembakan warga Kabupaten Deiyai, Papua, yang sesuai dengan fakta di lapangan. Badokapa menyampaikan para warga bersaksi Melianus Dogopia tidak pernah merusak mobil polisi, dan hal itulah yang membuat amuk massa setelah polisi menembak Dogopia pada Selasa (21/5/2019) lalu.

Bantahan atas kronologi versi Kepolisian Daerah (Polda) Papua itu disampaikan Badokapa di Jayapura, Senin (27/5/2019). Badokapa menyatakan ia telah menerima kesaksian sejumlah warga yang membantah keterangan polisi bahwa Melianus Dogopia merusak mobil polisi sebelum ditembak di bagian kaki.

Badokapa membenarkan bahwa Dogopia dan dua temannya meminum minuman beralkohol di depan Gereja Katolik Waghete, dan sempat mencegat serta meminta uang kepada mobil yang melintas, hingga akhirnya ketiganya didatangi mobil polisi. Badokapa membenarkan Melianus Dogopia sempat mengetuk kaca mobil polisi, dan ketika itu dibiarkan saja oleh polisi yang berada di dalam mobil patroli.

Beberapa teman Melianus Dogopia kemudian membawanya pulang ke Timipotu. “Ternyata mobil patroli itu mengikuti Melianus Dogopia pulang ke rumahnya di Timipotu. Sesampainya di rumah, Melianus Dogopia kembali ke luar rumah, dan mencegat mobil yang kebetulan melintas. Ketika itulah mobil patroli polisi mendekat, dan langsung menembak Dogopia. Korban jatuh dengan luka dembak di Paha, yang kemudian dilarikan ke RSUD Madi Paniai,” katanya.

Loading...
;

Badokapa menyatakan masyarakat yang marah dengan penembakan terhadap Melianus Dogopia mendatangi markas Kepolisian Sektor (Polsek) Tigi, dan membakar markas Polsek Tigi. Polisi membalas amuk massa itu dengan tembakan, dan sempat menghancurkan tempat jualan mama-mama. Akibatnya, massa semakin marah, dan melawan polisi dengan batu dan kayu.

“Persis di depan Bank Papua di penginapan di Duta Tigi, Yulianus Mote tertembak di bagian kepala, dan langsung meninggal. Kami menerima kesaksian warga, bahwa  penyebab masalah itu adalah aparat, jangan salahkan masyarakat Deiyai,” kata Badokapa, yang pada saat kejadian berada di Nabire.

Badokapa menyayangkan sikap Kepolisian Daerah Papua yang lebih menonjolkan masalah pemerkosaan terhadap sejumlah korban ketimbang kasus penembakan yang dilakukan polisi. Badokapa menyatakan Bupati Deiyai Ateng Edowai telah turun langsung memantau peristiwa itu, dan setelah masa duka usai akan membuka forum yang melibatkan semua pihak untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada 21 Mei 2019 lalu.

Secara terpisah Pastor Santon Tekege Pr yang berada di Waghete pada 21 Mei 2019 lalu menyatakan belum mendengar kesaksian warga atas kasus dugaan pemerkosaan terhadap tiga orang perempuan di Waghete. Pastor Tekege menyatakan informasi terkait dugaan pemerkosaan itu didapatkanya dari keterangan polisi yang diberitakan media.

“Yang harus dijelaskan polisi, bagaimana pemerkosaan itu terjadi pada Selasa. Sejak Selasa pukul 19.00 hingga Rabu dini hari pukul 02.00 WP, seluruh jalanan di Kota Waghete sudah dikuasai oleh aparat keamanan, baik polisi maupun tentara. Semua orang asli Papua mengungsi meninggalkan Waghete, karena takut. Ada warga yang lari ke Danau Tigi, ada pula yang lari ke daerah lainnya,” kata Pastor Tekege saat dihubungi pada Selasa (28/5/2019).

Pastor Tekege mengatakan, amuk massa yang terjadi karena Melianus Dogopia ditembak, dan penembakan itu dipersepsikan massa sebagai peperangan. Menurutnya, dalam budaya dan sistem nilai orang Mee, dalam perang orang Mee pantang berhubungan suami-istri dengan istrinya sendiri, dan pantang mengambil barang milik orang lain, apalagi melakukan kekerasan atau pemerkosaan terhadap perempuan dan anak.

“Kalau benar pemerkosaan itu terjadi, itu di luar sistem nilai orang Mee, dan itu terjadi untuk pertama kalinya. Saya sulit memahami bahwa pemerkosaan itu dilakukan oleh orang Mee, karena itu sesuatu yang pantang dilakukan dalam perang,” kata Pastor Tekege.

Direktur Lembaga Bantuan Hukum Emanauel Gobay mengatakan dalam kasus penembakan yang menewaskan Yulianus Mote, dan penembakan terhadap Melianus Dogopia diduga tidak memenuhi standar dan prosedur tetap polisi. Selain itu, penanganan kasus di Deiyai itu dinilai Gobay juga berpotensi melanggar ketentuan Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

“Penembakan itu juga patut diduga telah terjadi pelanggaran terhadap Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003 tentang Disiplin Kepolisian. Kedua terjadi pelanggaran terhadap Peraturan Kapolri Nomor 8 tahun 2009 tentang implementasi standar dan pokok hak asasi manusia dalam tugas kepolisian,”kata Gobay.

Terkait dugaan pemerkosaan yang terjadi dalam rangkaian peristiwa di Kabupaten Deiyai pada 21 Mei 2019, Emanuel Gobay menyatakan penyidikan kasus penembakan yang menewaskan Yulianus Mote dan melukai Melianus Dogopia harus terus dilakukan, dan dipisahkan dari persoalan amuk massa maupun dugaan pemerkosaan.

Gobay menegaskan, kasus dugaan pemerkosaan tidak boleh menjadi halangan untuk mengungkap kasus penembakan, demikian pula sebaliknya. “Tidak boleh ada (kasus) yang ditinggalkan. Kasus yang menimpa Melianus Dogopia dan Yulianus Mote, maupun kasus yang disebutkan Polda Papua mengenai adanya dugaan pemerkosaan dan pengrusakan barang, semua itu harus diproses hukum,” kata Gobay.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top