Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Wayang Ental” tiga dimensi perpaduan Jepang dan Bali

Wayang tiga dimensi, pixabay.com

Pementasan seni itu digelar dalam Festival Seni Bali Jani 2019.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Denpasar, Jubi – Teatrikal wayang Ental tiga dimensi bertajuk Manu dan Tala memadukan teknik permainan gaya Bunraku dari Jepang dan Tetikesan dari wayang tradisional Bali. Pementasan seni itu digelar dalam Festival Seni Bali Jani 2019.

“Wayang Ental (berbahan dari daun lontar), tiga dimensi ini merupakan pertunjukan wayang inovatif karena memang disajikan dengan cara berbeda dari wayang pada umumnya,” kata Ketua Sanggar Seni Kuta Kumara Agung, Gusti Made Dharma Putra, di sela pementasan di Depan Gedung Kriya, Taman Budaya, Denpasar, Sabtu (2/11/2019) malam.

Baca juga : Pemkab Temanggung Dokumentasikan Wayang Kedu Pemkab Sleman revitalisasi kesenian wayang topeng

Loading...
;

Minat Masyarakat Menanggap Wayang Thengul Meningkat

Wayang Ental tiga dimensi dengan durasi 45 menit itu menyuguhkan  sejumlah tokoh wayang secara kasat mata tanpa harus menyaksikan bayangannya. Rata-rata ukuran wayang itu setinggi satu meter dan lebar 30 sentimeter. Sedangkan ntuk lebar badan 15 sentimeter serta lebar tangan dan kaki 10 sentimeter.

Salah satu bagian penting dalam wayang Ental wajah wujud karakter manusia yang digambarkan menyerupai tokoh dalam cerita yang dibawakan. Tak hanya menggunakan teknik permainan wayang yang memadukan gaya Bunraku dari Jepang, yaitu pemainnya lebih dari satu orang, anyaman yang dipakai wayang Ental adalah anyaman Jepang yang menyerupai tikar.

“Perbedaannya, tikar hanya menggunakan dua helai Ental’ daun lontar, sedangkan anyaman Jepang menggunakan tiga helai daun lontar,” ujar Dharma Putra menjelaskan.

Seniman yang menempuh pendidikan S1 dan S2 di Institut Seni Indonesia Denpasar itu, menambahkan secara teknis dalam penyajian wayang Ental tiga dimensi, para penggerak wayang tidak dibolehkan untuk memberikan aksen berlebihan.

“Hal ini agar pandangan penonton tetap fokus pada wayang Ental dan ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para penggerak wayang,” kata Dharma menambahkan.

Pementasan itu melibatkan 20 seniman sebagai penggerak wayang, termasuk penari dan pembaca narasi berlangsung dalam suasana gerimis, penonton tetap setia menyaksikan hingga akhir acara.

Sebanyak enam penari perempuan juga menggunakan properti balon berwarna merah muda untuk menambah meriah suasana pementasan malam itu.

Kisah Manu dan Tala yang dibawakan bercerita tentang dua bersaudara yang hidup tanpa orang tuanya yang meninggal dunia ketika berusaha melindungi mereka dari amukan pemberontak.

Tala mengidap sakit keras hingga divonis dokter bahwa umurnya tidak akan lama lagi, namun dia menyembunyikan hal tersebut kepada kakaknya, Manu. Hingga pada waktu kepergian Tala datang, Manu tidak mengetahui hal itu. (*)

Editor : Edi Faisol

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top