Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Yosua Mote, ingin kumpul kembali dengan keluarga

Yosua Mote, orang asli Papua yang ikut mengungsi di Kabupaten Merauke – Jubi/Frans L Kobun

Papua No. 1 News Portal | Jubi

YOSUA Mote, seorang guru honorer di Sekolah Menegah Atas (SMA) YPPGI Wamena, Kabupaten Jayawiya, memilih untuk ikut mengungsi bersama ratusan warga non Papua ke Kabupaten Merauke.

Langkah itu diambil, setelah bayangan trauma yang terus terbawa-bawa, pascainsiden Wamena beberapa waktu lalu. Meskipun sebagai orang asli Papua, namun ia memilih mengungsi, sekaligus menenangkan diri terlebih dahulu.

Walau situasi di Wamena dari waktu ke waktu berangsur normal, namun untuk melakukan aktivitas seperti biasa, belum dapat dilakukan.

Saat ditemui di tempat penampungan sementara di GOR Hiad Sai, Kamis, 3 Oktober 2019, Yosua mengaku dirinya lahir, besar, dan tinggal bersama orangtua serta adik-adiknya di Wamena.

Loading...
;

“Memang orangtua saya dari Paniai, namun kami lahir dan besar di Wamena hingga sekarang,” ungkap Yosua yang juga guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes) di sekolah tersebut.

Dia pun bercerita banyak tentang awal mula tragedi berlangsung. Seperti biasa, pagi itu ia ke sekolah. Setelah sampai di sekolah, anak-anak murid menyampaikan bahwa ada ungkapan rasis yang dilontarkan oleh seorang guru di salah satu sekolah di Wamena.

Lalu, menurutnya, semua siswa sekolah meminta bergabung dengan sesama teman lain. Dengan demikian, kegiatan belajar mengajar tidak dilaksanakan.

“Lalu kami juga pulang ke rumah masing-masing,” kisahnya.

Setelah dalam perjalanan pulang dengan mengendarai sepeda motor, adiknya, yang saat itu bekerja di salah satu toko di Wamena, menelpon dan menyampaikan bahwa massa sedang melakukan aksi demonstrasi di sejumlah titik hingga aksi bakar-membakar.

“Adik saya meminta dijemput. Hanya saja, kericuan sedang berlangsung. Sehingga saya memilih pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang, rentetan bunyi tembakan terus terjadi,” ungkapnya.

Bahkan, lanjut dia, beberapa siswa berlumuran darah sehingga harus ditolong.

“Tiga orang saya bawa ke rumah dan membersihkan lukanya. Setelah itu menunggu mobil yang melintas, lalu dihadang agar mereka dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan tenaga medis,” katanya.

Saat itu, lanjutnya, ia ikut mengantar tiga siswa ke rumah sakit, meskipun situasi masih mencekam. Ketika sampai lagi di rumah, beberapa tetangga di sekitar yang merupakan orang non Papua sudah berdatangan meminta pertolongan.

“Tanpa menunggu lama, saya menyuruh mereka masuk dan bersembunyi dalam rumah dan tak boleh keluar. Karena jangan sampai ada yang melihat, mengingat aksi anarkis masih terus berlanjut,” ujarnya.

Setelah beberapa jam bersembunyi di dalam rumah, mereka pun lari keluar karena di sekitarnya ada mobil melintas. Sekaligus dibawa ke tempat penampungan di Polres maupun koramil.

Berpisah dengan keluarganya

Ratusan pengungsi yang ditampung sementara di GOR Hiad Sai-Merauke – Jubi/Frans L Kobun

Lebih lanjut Yosua mengatakan, pascainsiden, dirinya harus berpisah dengan mama serta tiga adiknya yang telah mengungsi ke Jayapura sejak tiga hari lalu.

“Saya belum kontak untuk mengetahui keberadaan mereka,” ujarnya.

Begitu juga, orangtua dan ketiga adiknya tak mengetahui bahwa dirinya mengungsi di Merauke.

“Memang ada rencana ke Jayapura, hanya saja belum mendapatkan tiket,” katanya.

Ditanya bagaimana dengan kondisi rumahnya di Wamena, Yosua mengaku tidak dibakar. Karena tak berada di pinggir jalan. Rumahnya berada di bagian dalam, melewati gang.

Dia pun mengaku, sampai sekarang masih dibayangi trauma dari peristiwa tersebut.

“Bagaimana tidak trauma, saya melihat dengan mata kepala sendiri kejadian sesungguhnya saat orang terjatuh dan berlumuran darah, kebakaran rumah, maupun bangunan dan lain-lain,” katanya.

“Untuk pulang kembali ke Wamena, saya belum memastikan. Karena harus ke Jayapura sekaligus membicarakan bersama mama dan tiga adik saya,” ujarnya.

Sebelumnya juga, Yanto Elopere, mengaku dirinya bersama delapan rekan lain, melindungi ratusan warga non Papua di rumahnya, saat amuk massa sedang terjadi.

“Saya bersama delapan teman lain, berdiri di depan rumah dan menghadang massa, sekaligus meminta orang non Papua tak diapa-apakan,” ungkapnya.

Setelah melihat situasi mulai reda, dirinya bersama rekan-rekan lain berjalan sekitar 500 meter membawa ratusan orang non Papua ke mobil yang sedang menunggu. Sekaligus dilarikan ke tempat penampungan baik di koramil maupun polres. (*)

Editor: Yuliana Lantipo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top